Benarkah Telah Mencintai (?)

Salam Rimba!

Sesuai judul di atas, Aku akan mengajak pembaca sekalian untuk memperbincangkan cinta. Jika perbincangan ini diawali dengan pertanyaan tentang apakah cinta itu, maka aku yakin tiap-tiap pembaca akan memberikan berbagai macam definisi tentang cinta. Mungkin akan ada yang menganggap bahwa cinta adalah tentang kasih sayang, cinta adalah tentang rindu yang menggebu, cinta adalah candu, atau cinta adalah segala hal tentang keindahan, dan lain-lain, dan lain-lain. Ribuan definisi tentang cinta dapat dipaparkan. Tapi bukan itu alasan mengapa aku membuat tulisan ini.

Sebagai manusia-manusia yang sering melakukan kegiatan di alam bebas, mendaki gunung, memanjat tebing, memacu adrenalin di tengah derasnya arus, bertahan hidup dalam hutan berhari-hari. Sebagai manusia-manusia yang seringkali mengaku sebagai “Pecinta Alam” , benarkah cinta kita itu ada? Sejauh apa cinta membuktikan eksistensinya? Atau, sebesar apa usaha kita membuktikan eksistensi cinta?

Berkegiatan di alam bebas sekarang ini telah menjadi wabah – menjamur, menjelma sebagai virus yang menyebar terpompa oleh jantung. Dimana-mana kita lihat sekarang ini gunung-gunung jarang sepi, dijejali para pendaki yang berusaha membuktikan eksistensi mereka dengan mencapai puncak tertinggi. Hingga kadang aku merasa minder, merasa tak pede dengan mereka-mereka ini yang senantiasa berlomba-lomba untuk menakhlukan alam. Aku sendiri yang notabene telah memiliki organisasi, memiliki sedikit pengetahuan tentang kegiatan alam bebas, merasa kalah telak dalam perlombaan penakhlukan alam ini – bila hal ini dianggap sebagai suatu perlombaan.

Fenomena ini, menurutku menimbulkan semacam keinginan untuk lebih dalam mencintai alam. Aku lihat teman-teman pendaki ini, bersama teman-temannya yang lain, dengan carrier baru nan kinclong, berisi penuh dengan jajanan, berangkat dengan dandanan yang menurutku lebih cocok untuk dikenakan ketika pergi ke mall, atau bahkan untuk fashion show – melenggang diatas panggung dan melakukan catwalk. Mereka mendaki dengan semangat berapi-api, turun dengan wajah berseri, lupa bahwa sampah mereka tak punya kaki buat turun dan pergi. O, alamku cintaku, yang dulunya berupa gunung, sekarang berangsur berubah menjadi lautan. Lautan sampah dan sisa-sia makanan. Alamku tak lagi menampakkan keindahan.

Mereka… ah, tapi benarkah semua itu hanya salah mereka? Bagaimana dengan kita – aku dan teman-temanku yang mengaku sebagai manusia yang mencintai alam? Apakah benar dari kalangan kita sendiri yang sok tahu tentang alam ini sudah berusaha sebaik mungkin dalam menjaga alam, dalam melestarikan, dalam mencintai alam?

Aku rasa belum. Aku rasa kita – khususnya aku, tak sebegitu mencintai alam. Pecinta Alam cuma gelar. Cinta yang digadang-gadang hanyalah sebatas ide, tak nyata. Cinta yang digembor-gemborkan sebenarnya masih berupa rencana. Rencana yang tak juga terlaksana hingga menjadi sekedar wacana. Kusadari cintaku terhadap alam hanya omong kosong belaka. Hanya berpura-pura marah dan sedih ketika orang lain bertindak merugikan alam. Maka sekarang aku takkan lagi berani mengaku cinta.

Bagaimana bisa selama ini aku mengklaim memiliki cinta yang besar tanpa didasari tindakan-tindakan nyata untuk membuktikannya. Selama ini hanya bualan belaka, cinta yang ada dalam angan sahaja, cinta tanpa aksi yang nyata. Bisakah perasaan cinta ini diukur bila hanya dalam pemikiran saja? Sekarang aku menyadari bahwa nilai sebuah perasaan ditentukan dari fakta tindakan-tindakan yang dilakukannya. Cinta takkan terbukti tanpa bukti tindakan yang nyata.

Aku ingat kisah Nabi Ibrahim/ Abraham yang entah bagaimana mendapat bisikan dari Tuhan yang memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya. Untuk membuktikan kesetiaan dan kecintaan Ibrahim pada Tuhannya, maka Ibrahim diharuskan mengorbankan putranya. Sebenarnya bisa saja Ibrahim berkata, bersumpah demi nyawanya sendiri bahwa dia setia dan cinta pada Tuhannya. Tuhannya pun tahu sumpahnya sebenarnya cukup untuk membuktikan kesetiaannya. Tapi toh seperti diketahui, Tuhan tetap menuntut bukti. Cinta, atau perasaan apapun itu, membutuhkan tindakan nyata agar bisa diketahui.

Agaknya cukup tulisan ini untuk mengingatkan diriku sendiri – dan mungkin mengingatkan siapapun yang turut membaca, bahwa cinta memerlukan tindakan nyata…

Selamat mencintai alam, Salam Rimba!!

 

P.VIII.005.068.BJ