Mengapa Harus Mencari Pacar Mapala dan Bukan Pendaki Biasa

Mengapa Harus Mencari Pacar Mapala dan Bukan Pendaki Biasa

Salam Rimba!

Mahasiswa Pecinta Alam/ Mahasiswa Penggiat Alam, adalah sebuah organisasi berazazkan kekeluargaan yang bergengsi di kampus. Sepertinya di kampus mana saja seperti itu. Kenalan banyak, saudara ada di kampus manapun, keluarga dalam organisasi begitu besar. Rasa saling memiliki antar anggotanya boleh dibilang sangat kuat. Kegiatan yang dilakukan kebanyakan sangat keren. Terlihat gagah meliuk-liuk di tebing, kekar ketika mendayung perahu seperti di sebuah iklan minuman energi.

Hal-hal itu menciptakan sebuah citra bahwa: seolah-olah semua Insan Mapala adalah ibarat pohon Oak yang berani menerjang angin. Seperti kata Gie.

Namun perlu diketahui, tak semua seperti itu. Sebagian yang lain hanyalah sebatang bunga dandelion yang berhamburan kemana-mana tertiup angin. Ringkih. Sebagian hanyalah manusia biasa. Juga memiliki hati yang bisa nestapa.

Sejatinya, di antara keluarga Mapala yang solid itu, sebagian tetap membutuhkan orang lain yang bisa didekap. Yang bisa diajak untuk saling cumbu, saling menghisap dan dihisap — tentu saja, ketika sudah waktunya. Butuh seorang ibu agar puisi-puisinya tak lagi piatu. Butuh sosok yang bisa dijadikannya rumah ketika rindunya berontak ingin pulang.

Dan seperti yang diketahui, kenyataan memang terlalu pahit. Tak semudah itu merayu seseorang agar mau didekap. Namun bribik tak boleh berhenti, jika lisan ditahan, kerahkan segalanya melalui tulisan. Dan di bawah ini barangkali banyak yang tak ada dalam seorang pendaki biasa. Bacalah Ladies, alasan-alasan mengapa harus memacari sebagian dari kami!

Seorang Mapala adalah makhluk yang setia

Semua juga sudah tahu, bagaimana kesetiaan seorang anggota Mapala pada organisasinya. Ditugaskan ngarung sungai grade tinggi, dilayani. Diminta pergi ke hutan berhari-hari, dilayani. Diminta senior menjaga sekretariat ketika kampus sedang liburan, juga dilakukan. Dedikasi seorang Mapala begitu tinggi. Untuk organisasi saja sudah seperti itu, apalagi untuk mbak-mbak yang unyu?

Senantiasa siap siaga

Ini jangan ditanyakan lagi. Selalu siap siaga ketika ada yang memerlukan bantuan, siap menggulung lengan baju dan turun langsung ke lokasi bencana. Nah mbak, bukankah Mama menyuruhmu mencari orang yang SIAGA? Hueee.

Mapala, sebuah sosok yang lembut

Kebiasaan berlama-lama di hutan sedikit banyak memang telah mempengaruhi gaya seorang Mapala. Bukan hanya jiwa yang rimba, tapi juga rupa. Kuliah dengan style rambut gondrong, pakaian lusuh, memakai sepatu gunung dengan mata yang berapi-api pasti membuatnya ditakuti para gadis. Tapi agar para gadis tak takut lagi, apa boleh buat. Ketahuilah, bagi Mapala:

Tampang memang seperti semak belukar, tapi hati selalu indah layaknya taman berbunga.”

Membuatmu merasakan romantika alam bebas

Mapala bisa untuk tidak bertampang dan berkelakuan sangar. Sewaktu-waktu juga bisa lucu dan periang. Membahagiakan perasaan orang lain. Kadang juga romantis, bahkan puitis. Seperti beberapa kalimat rayuan khas alam bebas ini:

Apabila hatimu adalah pendakian gunung Arjuno, tak heran di matamu aku lali jiwo.”

Kau mengajak ke puncak, aku mengajak pulang. Kita, adalah ajakan yang saling membahagiakan.”

Selebihnya silakan lihat tagar #SajakRimba ya mbak. Siaplah untuk dibribik.

Pantang menyerah hingga akhir

Bagi kami sebuah penantian pasti akan berakhir. Dan kenyataan yang pahit pasti akan berubah menjadi manis pada waktunya. Tak ada yang abadi dalam sebuah penantian. Bahkan alam mengajari kami bahwa di dunia ini tak ada yang abadi.

Tak pernah ada yang benar-benar abadi, tak satu Edelweis pun.”

Mungkin penantian kami masih panjang dan belum akan berakhir. Begitu pun perjuangan kami, tak akan kami akhiri ketika belum tercapai harapan kami. Tapi setelah membaca ini, bersediakah mbak menolong?

Barangkali kau lupa, aku ini bukanlah Eidelweiss. Mengapa tak kunjung jua kau berani memetik?”

Salam Rimba!