Sungai Segah, Ketinting, dan Segelas Kopi

Sungai Segah © Khoirul Rijal

Sungai Segah © Khoirul Rijal

Masih pagi benar, waktu menunjukkan pukul 03.00 Waktu Indonesia bagian Tengah, belum terlalu banyak aktivitas yang terlihat. Mungkin masih terlalu pagi atau memang saat bulan puasa  kebanyakan orang lebih asyik memenuhi surau di tepian Sungai.

Lalu, saat aktivitas perusahaan kayu mulai aktif, dermaga ini tiba-tiba menjadi riuh oleh berbagai aktivitas pengangkutan kayu gelondongan. Seperti ibu kota Jakarta yang padat merayap, Dermaga Segah tak pernah sepi dari antrian tugboat pengangkut kayu dan batu bara.

Aku meraih kopi hitam legam tanpa gula yang mengepulkan uap panas sebelum menyandarkan badan di satu-satunya pohon kelapa yang tumbang di Dermaga Segah Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Ini kopi pertama yang kuminum sejak menginjakkan kaki pertama kali di Borneo beberapa hari lalu. Rasanya pahit, penuh ampas, tapi apa boleh buat. Rasanya… seperti pasangan yang sudah tidak cocok, tapi memaksakan untuk bersama, hanya karena takut sendiri lagi.

Keheningan pagi tiba-tiba pecah dibuyarkan suara Pak Firman, “Mas. Perahunya sudah siap, kita berangkat kah?” ucap lelaki paruh baya itu.

“Siap, Ayo kita berangkat,” kataku, sambil buru-buru menandaskan segala pahit yang tersisa di gelas kopi, lalu mengikuti Pak Firman menuju longboat–perahu kecil khas Suku Dayak–yang di sini lebih dikenal dengan sebutan ketinting.

Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi pemandangan indah nan hijau menuju perkampungan warga, tempat persemaian kebun gaharu, karet dan tanaman produktif lainnya di pedalaman Kalimantan Timur. Ketinting yang bertenagakan mesin dari salah satu raksasa industri otomotif di Jepang itu melaju dengan kecepatan sekitar 50 km/jam, membawa kami menuju hulu sungai. Batu-batu besar bertebaran di sepanjang sungai. Hamparan bebatuan kecil yang biasa disebut kersik memenuhi pinggiran sungai, yang ketika sungai surut, mereka terlihat warna-warni.

Jantung tak hentinya berdegup saat ketinting melewati jeram yang airnya sangat deras dan panjang. Pengalaman ini baru pertama kalinya aku rasakan, menaiki perahu kecil dari kayu menembus pedalaman Kalimantan, menyusuri sungai besar selebar 20-30 meter berair keruh, penumpang tak memegang kayuh, tak ada helm safety dan tak ada  pelampung, tidak seperti halnya arung jeram yang sering kuikuti saat masih aktif di kegiatan penggiat alam PERIMATRIK saat kuliah dulu.

Sungai Segah, Kampung Warga © Khoirul Rijal

Sungai Segah, Kampung Warga © Khoirul Rijal

Sepenuhnya kemudi kami percayakan kepada Pak Tua keturunan Dayak Gaee di belakang, Jika salah mengambil jalur perahu akan terhempas dan penumpang akan terbalik. Dari pembicaraan Pak Firman, sungai di sini masih ada buayanya, sering terlihat naik ke keramba ikan milik warga saat musim hujan telah tiba. “Tenang saja mas, aku sudah 40 tahun pegang kemudi, takut kah kau?” ujar lelaki tua itu mencoba menenangkan, sambil terkekeh dan terus menghisap gulungan tembakau, mungkin dia tau aku gelisah dan takut tercebur. Barisan pohon gaharu yang menjuntai di bibir sungai dan jejeran pohon karet yang berdiri kokoh seakan menjadi gerbang selamat datang yang menyambut kami di hutan konservasi binaan Kementrian Kehutanan.

Ekspedisi kali ini bukan untuk memanjakan mata sambil mengisi waktu luang, atau untuk berfoto ria kemudian mengunggahnya di jejaring sosial. Bukan pula bertujuan mendatangi taman yang diisi mahluk purba dinosaurus seperti di film Jurassic Park, yang tak sempat kutonton di akhir pekan, berdua, bersama kekasih yang mudah “dibohongi” layaknya pasangan muda-mudi kekinian. Tim ini menyusur Kecamatan Segah dan Kecamatan Kelah untuk meninjau bukti kegiatan “Forest and Clime Programme”.

Hilir Sungai Segah, Banyak Buaya © Khoirul Rijal

Hilir Sungai Segah, Banyak Buaya © Khoirul Rijal

Dalam rangka melaksanakan strategi konservasi hutan dan pengelolaan hutan lestari yang menghasilkan penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan perbaikan taraf hidup masyarakat sekitar hutan. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Republik Federal Jerman, menetapkan program kerjasama Financial Forest Programme (Forclime FC) dengan nama Proyek Forest Programme (Suppport for the Ministry of Forestry). Untuk pelaksanaan proyek tersebut Pemerintah Jerman telah menyediakan kontribusi pendanaan berupa hibah sebesar EUR 20.000.000, yang disalurkan melalui Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW). Sedangkan pemerintah Indonesia menyediakan kontribusi berupa dana sebesar EUR 2.000.000 dan berupa inkind/non-cash.

Program investasi jangka panjang yang didanai Jerman ini tidak mengharap timbal balik financial layaknya investor gendut di pasar modal, bahkan mereka murni mencoba memperbaiki taraf hidup warga pedalaman dengan mengalihkan pekerjaan utama mereka sebagai pemburu dan penebang pohon. “Kita sebagai manusia telah berbuat banyak kerusakan, anggaplah program ini sebagai penebus dosa di masa lalu.” kata Suhardi Sabran, Kepala Dinas Kehutanan Berau di tengah perjalanan.

Dengan merangkul penduduk lokal dan melakukan bimbingan cara bercocok tanam pada ladang serta mengajari cara beternak. Untuk pengadaan modal awal seluruhnya dibiayai pemerintah alias gratis, mulai dari persemaian bibit pohon, bibit hewan ternak, pupuk, biaya pembuatan kandang bahkan sampai biaya awal perawatan dan sebagainya. Diharapkan warga tidak lagi masuk ke hutan untuk berburu dan menebang pohon untuk membuka ladang baru. Tim Forclime bekerjasama dengan tim husus hasil rekrutan dari berbagai ahli untuk mendapatkan orang-orang yang berkompeten di bidangnya serta melakukan pendekatan secara perlahan demi menghindari konflik dengan aturan adat yang berlaku di pedalaman Kalimantan.