Kelud, Setahun Setelah Letusan

Kelud, setahun setelah letusan 2014 © Yuni Kusuma W

Kelud, setahun setelah letusan 2014 © Yuni Kusuma W

Pagi tak seperti biasanya, lebih dingin. Angin yang mendayu-dayu melewati ventilasi udara mencoba memasuki sela-sela selimut yang sudah menghangatkan tubuh ini semalaman. Seperti biasa, pagi itu saya dibangunkan oleh Dumang (AMP.X.003.GB). Suaranya lantang bak letusan Gunung Sinabung. Mau tidak mau, saya memang harus bangun, karena ada rencana yang mesti dirampungkan.

Rencana kali ini bukanlah mendaki gunung yang tingginya mencapai 3.000-an mdpl, seperti yang sedang gencar dilakukan oleh kawula muda jaman sekarang. Pendakian yang membutuhkan persiapan sedemikian rupa untuk membekali diri sampai ke puncak yang diidam-idamkan.

Rencana kami adalah menikmati keindahan Gunung Kelud, salah satu primadona asli Kediri setinggi 1.731 mdpl. Secara legenda, Gunung Kelud terbentuk akibat pengkhianatan cinta Dewi Kilisuci terhadap dua orang raja yang sempat melamarnya. Kata Eyang Uti-ku dulu, salah satu rajanya sempat bersumpah kalau “Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung” (Kediri menjadi sungai, Blitar menjadi daratan dan Tulungagung menjadi danau), akibat kemarahannya kepada sang Dewi. Tapi itu hanyalah sebagian cerita dari Eyang Uti ketika saya kecil, itu penggalan dongeng Uti yang masih terpreservasi di ingatan saya. Untuk kebenarannya: Wallahualam Bishawab.

Gunung yang masih aktif ini terakhir meletus pada tahun 2014. Letusan pertama terjadi pada tanggal 13 Februari sekitar pukul 22.50, hampir menjelang peringatan hari Valentine pada waktu itu. Letusan Gunung Kelud seakan mengisyaratkan bahwa ia ingin berpartisipasi dalam perayaan hari kasih sayang (mungkin), hanya saja dalam bentuknya yang berbeda. Ini adalah curahan kasih sayang dari alam kepada manusianya.

Mungkin letusan itu lebih dianggap musibah, padahal maksud Gunung Kelud tidak seperti itu. Sejatinya semua itu adalah ajakan darinya untuk sama-sama lebih menjaga lingkungan dan lebih mendekatkan diri dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Pemberi. Benar, saat letusan terjadi manusia berdoa, berbondong-bondong memohon perlindungan kepada Tuhan. Memohon keselamatan dari yang disebutnya sebagai musibah.

Perjalanan kali ini tidak memerlukan Manajemen Persiapan Perjalanan (MPP) seperti biasanya. Tak ada carrier, tak ada sepatu gunung, tak ada peta dan tak ada kompas. Tak ada persediaan baju ganti, pun skenario makan. Apalagi bongkar carrier terus packing lagi dalam 2 menit, jelas tidak ada (hehe, nostalgia masa-masa Siswa). Perjalanan kali ini sungguh sangat selow. Yang diperlukan dalam perjalan kali ini hanyaah kesabaran dan kekuatan iman agar puasa tidak batal di tengah jalan.

Tebing Sumbing © Yuni Kusuma W

Tebing Sumbing © Yuni Kusuma W

Lokasi Kelud yang kurang lebih memakan waktu 1 jam dari Pare kami tempuh dengan mengendarai mobil, perjalanan yang sangat selow memang, sehingga yang dilakukan hanyalah duduk santai sambil melihat indahnya pemandangan. Sampai di kaki gunung, hijaunya lahan pertanian terlihat begitu subur. Suburnya tanah disekitar kaki gunung ini akibat curahan kasih sayang Sang Gunung melalui abu-abu vulkanik kala letusan satu tahun silam yang menyatu dengan tanah. Berbagai jenis tanaman tumbuh di kaki Gunung Kelud, namun kebanyakan adalah tanaman nanas. Kalau sedang ke Kelud jangan lupa beli buah nanasnya, dijamin rasanya manis dan enak.

Satu jam sudah perjalanan menggunakan kendaraan menuju Kelud, selanjutnya adalah berjalan kaki untuk menikmati pemandangan sampai ke puncak. Tapi untuk yang malas berjalan kaki ada juga jasa ojek yang siap mengantarkan anda yang lelah entah lelah akibat menunggu ketidakpastian hubungan atau lelah akan menjalani kehidupan.

Puasa tidak menjadi penghalang dalam perjalanan kali ini, saat naik gunung kita juga bisa sesekali menambah pahala dengan bertakbir saat mendaki dan bertasbih saat menuruni. Seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah “Saat melewati jalan tanjakan, kami mengucap takbir. Dan saat melewati jalan menurun, kami mengucap tasbih.”

Sambil jalan, saya dan Dumang juga sempat bernostalgia mengingat kembali perjalanan yang sudah-sudah. Mengingat kembali kisah Dumang yang muntah-muntah saat survival, Komeng yang serasa hampir putus asa, Bella yang sudah diam tanpa kata. Pitik yang selalu memberi semangat sekaligus pemimpin dari kami berlima. Nostalgia ini sebenernya juga bukti kangen sama manusia-manusia penghuni sekre yang lain (mas-mas dan mbak-mbak) yang kurang lebih sudah tiga minggu tidak bertemu akibat liburan panjang yang memisahkan.

Pohon kering yang masih berdiri tegap © Yuni Kusuma W

Pohon kering yang masih berdiri tegap © Yuni Kusuma W

Selama perjalanan pemandangan yang (subhannallah) tidak akan pernah saya sesali, mulai dari lekuk indah gunung yang menghijau, suara mata air juga turut terdengar selama perjalanan, begitu pun hamparan gunung pasir yang luas membentang. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah pohon-pohon kering yang masih berdiri tegap. Merekalah saksi bisu dari dahsyatnya letusan gunung setahun yang lalu. Walaupun mereka telah kehilangan daunnya yang hijau, mereka justru semakin indah saja.

Meski alam telah memberikan keindahannya, masih saja manusia memberikan timbal-balik yang berbeda. Masih ada saja sampah yang yang ditinggalkan oleh para pengunjung yang sebelumnya. Semoga mereka cepat tersadarkan. Berbeda sekali dengan mas-mas dan mbak-mbak PERIMATRIK saat sedang melakukan perjalanan, kalo nyampah di atas, pasti ya sampahnya dibawa pulang, sampek akhirnya ketemu tempat sampah lagi di bawah.

Akan tetapi, ternyata perjalanan kali ini tidak sampai  puncak. Akses ke sana ditutup demi keselamatan bersama. Kami turun, kami tahu pulang adalah tujuan akhirnya. Panas terik dan dahaga luar biasa membuat kami merasakan nikmatnya duduk di atas motor Pak Ojek. Di atas motor, saya lalu tersadarkan: ternyata saya termasuk dalam kategori manusia yang lelah.