Konservasi Penyu Pantai Cemara

Tukik umur 1 bulan yang sudah siap di lepaskan ke alam

Tukik umur 1 bulan yang sudah siap di lepaskan ke alam

Rabu, 16 Juli 2015, atau kurang lebih satu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, masih belum ada yang tau pasti kapan bulan syawal akan datang. Sebagian telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada tanggal 17 juli dan sebagian kubu yang lain masih menunggu keputusan sidang ahli hisab dan rukyat hilal. Akan tetapi, bagi mereka yang masih terjebak dalam padatnya perjalanan tidak peduli kapan ditetapkannya 1 Syawal, dalam benak mereka hanya ingin segera tiba supaya segera dapat menyantap kue lebaran, menjabat tangan dengan erat, berpelukan serta merasakan kehangatan saat berkumpul bersama di kampung halaman.

Bombardier CRJ1000 dengan kabin rampingnya berisi 68 kursi penumpang terbang melejit di atas bumi Blambangan menjauhi gumpalan awan panas yang keluar bersamaan dengan dentuman-auman Gunung Raung. Saya beruntung penerbangan pada pekan ini sudah kembali dibuka walaupun sisa material piroklastik bukti murka Gunung Raung masih tampak jelas menyelimuti sebagian badan pesawat, menutupi seluruh landasan bandara, dan melapisi hampir seluruh permukaan bangunan Bandara Blimbingsari Banyuwangi. Jenis boeing yang saya tumpangi merupakan rute domestik jarak pendek. Pesawat ini adalah anggota termuda dari salah satu maskapai yang rencananya akan menggantikan tugas dari Boeing B737-500 yang akan segera dinonaktifkan.

Banyuwangi merupakan satu sisi dari Negeri yang terdengar mistis dengan aroma magisnya, dibubuhi oleh pesona bahari yang santai dan natural, pantai yang tersembunyi, serta lekat dan bergaul dengan kebersahajaan para perantau yang memilih tertegun oleh drama alam selepas pergi dan kembali ke kampung halaman.

Kawasan konservasi yang baru

Kawasan konservasi yang baru

Setahun belakangan banyak media yang menenarkan pesona wisata Banyuwangi, dari keindahan Kawah Ijen Si Api Biru, gugusan Pulau Merah, hingga gulungan ombak di pantai Plengkung tempat surganya para pecinta surfing yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Namun, dari semua lokasi yang telah tenar tersebut ada sebuah pantai kecil tempat perkampungan nelayan yang hanya berjarak 5 km saja dari pusat kota, yang menyimpan peranan penting dalam pengendalian ekosistem bahari di wilayahnya.

Berangkat dari kesadaran para nelayan setempat dan bersumber dari ilmu yang mereka dapat secara otodidak, mereka merubah sebuah kawasan perkampungan nelayan biasa menjadi wilayah konservasi penyu yang dinaungi dan dilindungi oleh hukum adat. Dipimpin oleh seorang tokoh adat yang dipilih bukan berdasarkan kekayaan yang melahirkan seorang penguasa, melainkan ilmu, kebijaksanaan dan kearifan. Menjadikan Muhyi, 65 tahun, seorang pria keturunan Osing-Madura sebagai pemimpin, sekaligus kelompok usaha Kampung Nelayan Pantai Cemara Pesisir Timur Banyuwangi.

“Mbah Muhyi”, begitu panggilan orang-orang kepada beliau, sosoknya tinggi besar, tubuhnya dempal dibalut punggung yang hitam legam terbakar matahari. Sebagian rambutnya memutih menandakan usianya kini tak lagi muda, namun semangat kerjanya dapat terlihat dari tebalnya otot lengan dan guratan bekas luka lama yang telah mengering di kaki tangannya, menggambarkan pekerjaannya yang pastilah kasar dan amat berat. “Luka ini saya dapat selama menjadi nelayan, tiap goresannya memiliki cerita berbeda,” ujar Mbah Muhyi sambil menunjukkan bekas sayatan ekor pari di lengan kanannya. Beliau adalah nelayan yang dituakan, spesialis penangkap ikan pelagis (jenis ikan permukaan) yang berukuran besar, kesehariannya dihabiskan untuk berburu Super Marlin  (Xiphias gladius) dan menjaring gerombolan Tuna ukuran raksasa (Thunnus albacares) dengan bobot hampir 180 kg per ekornya.

Penulis Foto Bersama Mbah Muhyi

Penulis Foto Bersama Mbah Muhyi

Dulunya, Kampung Nelayan Pantai Cemara dipenuhi berbagai sisa industri rumahan dan sisa perlatan penangkapan ikan tak terpakai yang menggunung menjadi sampah. Belum lagi saat gelombang pasang datang membawa serta meterial yang kemudian singgah dan terdampar menutupi hampir seluruh wilayah bibir pantai. Dan saat musim migrasi penyu telah tiba, tak jarang banyak penyu dewasa yang tersangkut jaring nelayan atau bahkan mati tersedak akibat memakan material sampah lalu bangkainya terseret di pantai. Belum lagi kebiasaan para nelayan yang sengaja mengambil telur penyu untuk dijual dan dikonsumsi sendiri.

Mbah Muhyi merasa prihatin nanti anak cucu generasinya hanya mengenali penyu dari gambar saja dan beliau juga merasa takut lama-kelaman lingkungan wilayahnya menjadi perkampungan kumuh. Dibantu oleh anggota kelompok nelayan yang ia kelola, dibuatlah sebuah tempat konservasi penyu hijau di wilayah pantai Cemara.

Deburan ombak yang tak mau diam menjadi backsound patroli penyu kami malam itu, udaranya sangat dingin menusuk tulang, ditambah lagi terpaan angin laut selatan kian melarutkan perjalanan kami menyusuri bibir pantai. Rasa kantuk yang tak terbendung mematahkan aralku untuk menyaksikan reptil purba tersebut untuk bertelur. Baru ketika dalam perjalanan pulang terlihat gundukan hitam yang menyumbul terdorong ombak, tidak salah lagi, kulihat penyu betina berumur sekitar 30 tahun merusaha keras menandaskan dirinya di atas permukaan pasir yang lembut.

Mendorong penyu lemah kembali ke laut setelah bertelur

Mendorong penyu lemah kembali ke laut setelah bertelur

Langkah gontai kami berubah seketika, raut muka lelah menjadi senyum riang, rasa kantuk pun seakan sirna setelah menyaksikan sang induk membuat beberapa sarang di tempat yang telah dipilihnya. Dari beberapa lubang yang telah dibuat menggunakan sepasang tungkai belakangnya, hanya satu lubang saja yang ia tongkrongi untuk bertelur. Hal tersebut ia lakukan guna mengelabui predator pemangsa telur seperti babi hutan, biawak, kera dan juga manusia.

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 hingga 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun apabila tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.

Sarang Penyu yang Baru Digali

Sarang Penyu yang Baru Digali

Untuk mengurangi resiko kematian dini para tukik, maka Mbah Muhyi menyadap telur tersebut kemudian memindahkannya ke sarang tempat penetasan. Proses penetasan tergantung pada kondisi alam dan suhu kelembapan pasir di penangkaran, pada umumnya telur akan menetas setelah 56-70 hari. Setelah telur menetas, anakan penyu akan degan sendirinya berusaha keluar dari timbunan pasir, kemudian dipindahkan ke bak styrofoam selama beberapa minggu hingga dirasa sudah cukup kuat untuk dilepaskan kembali ke laut. Mengarungi biru.