Merayakan Cengkeh di Pinggiran Malang

Cengkeh kering : cengkeh yang sudah mengalami proses pengeringan dengan cara dijemur memakan waktu 3-5 hari, tergantung dari panas terik matahari.

Cengkeh kering : cengkeh yang sudah mengalami proses pengeringan dengan cara dijemur memakan waktu 3-5 hari, tergantung dari panas terik matahari.

Rempah, adalah kekayaan Hindia Timur–yang sekarang ini bernama Indonesia–yang menjadi alasan bagi moyang kita harus bertahan dan berjuang menghadapi penjajah. Awalnya mereka, bangsa Eropa, datang dengan dalih begadang berdagang. Lalu, masuk ke ranah politik, menyusup ke konflik perebutan kekuasaan di kerajaan. Pada akhirnya, mereka datang lagi dengan membawa armada yang bertujuan mengambil alih kekuasaan. Menguasai kekayaan Indonesia. Menguasai rempah-rempah.

Cengkeh (Syzygium aromaticum) dan pala (Myristica fragrans) merupakan tanaman asli Kepulauan Maluku, Kepulauan Rempah-rempah, kata orang-orang Eropa. Tanaman ini dikenal sebagai bahan bumbu masakan, obat, dan ramuan wewangian. Cengkeh dan pala juga menjadi bahan utama pengawet bahan pangan. Cengkeh juga menjadi rempah tambahan dalam penyajian kopi Arab; kopi yang direbus dan dicampur dengan rempah lain seperti kapulaga, jahe, kayu manis, juga daun pandan.

Di Indonesia sendiri, cengkeh merupakan sahabat karib dari tembakau: salah satu komoditas pertanian yang harganya berada di kisaran 800 ribu hingga 1 juta rupiah per kilonya. Kedua tanaman ini merupakan bahan baku pembuatan rokok kretek. Di sebuah pertemuan di Inggris, sambil menghisap kretek asli Indonesia ini, Agus Salim–tokoh pejuang kemerdekaan–bertanya pada bangsa Eropa: “Paduka, adakah Paduka mengenali aroma  rokok ini? Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya”.

***

Sekarang, 70 tahun sudah Indonesia merdeka. Dan, alhamdulillah, “Tanah rempah dunia” ini (ternyata) masih memiliki kaum-kaum petani yang setia menanam tanaman eksotik tersebut–menanam cengkeh. Mereka tetap bersyukur masih bisa menikmati hasil peluh keringat dari kerja keras yang dijalani selama ini.

Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), sebuah desa di pinggiran Kabupaten Malang, Jawa Timur, merupakan daerah dengan lahan pertanian yang subur. Daerah ini masih memertahankan cengkeh sebagai tanaman utama, setelah kopi, kelapa, merica dan masih banyak lagi lainnya. Cengkeh menjadi primadona di desa ini karena pada cengkeh-lah mereka bergantung untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hampir setiap bagian dari pohon cengkeh memiliki nilai guna, sekaligus nilai tukar.

Ketika panen bunga cengkeh tak melimpah, misalnya, maka dari hasil olahan daunnya saja, para petani sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Minyak dari hasil penyulingan daun cengkeh tak kalah dalam memberikan kesejahteraan bagi para petani. Jika sedang melintasi jalanan tak beraspal di desa ini, bisa ditemui tempat-tempat penyulingan cengkeh milik warga setempat yang berbentuk dandang dengan diameter 1 meter sampai 1,5 meter.

Bagi kaum petani, kebahagiaan sejati datang dan terjadi saat musim panen tiba. Seperti yang terjadi di desa ini, ketika panen raya. Panen cengkeh merupakan kebahagiaan seluruh masyarakat, baik petani pemilik lahan maupun buruh tani, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Bagi para buruh tani, panen cengkeh merupakan rezeki tersendiri setiap tahunnya. Kala hari-hari biasa, tenaga mereka  dihargai kisaran 25-35 ribu per hari untuk bekerja apa saja, seperti menyiangi rumput, memberi pupuk pada pohon cengkeh dan pekerjaan lain, apa pun itu. Namun berbeda saat musim panen tiba mereka akan mendapatkan 70 ribu dari hasil kerja mereka; mulai dari memanjat  rumah tetangga  pohon, memetik cengkeh, dan memikul cengkeh tersebut sampai ke rumah pemilik.

Memanjat pohon cengkeh bukan tanpa resiko, tak jarang ada buruh tani yang  mengalami patah tulang bahkan meninggal akibat jatuh dari pohon cengkeh. Hal ini terjadi karena tradisi memanjat pohon cengkeh yang hanya dengan bantuan alat sekadarnya; tali tampar atau tali plastik, dan juga tangga dari bambu. Peralatan ini tentu berbeda sekali dengan yang digunakan oleh penggiat panjat tebing, tentu saja. Maka, jelas, pekerjaan ini hanya mampu dilakoni oleh para profesional saja dan tentunya mereka yang berpengalaman dan tak memiliki high-phobia. Apalagi semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin menerjang.

Proses pemetikan cengkeh dengan bantuan tangga dan tali.

Proses pemetikan cengkeh dengan bantuan tangga dan tali.

Para petani adalah kaum yang bergantung bahkan pasrah terhadap alam, terutama untuk masalah wanci (cuaca). Hasil panen tak akan berhasil tanpa cuaca yang mendukung. Saat musim panen tiba hanya panas teriklah yang diharapkan. Hal ini bertujuan agar cengkeh cepat mengering, sebab cengkeh yang sudah dipithili (pemisahan cengkeh dan tangkainya) harus cepat dijemur, karena apabila didiamkan, cengkeh yang sifatnya panas akan berjamur dan membusuk jika dibiarkan menumpuk.

Belakangan ini, beberapa masyarakat Desa Kedungbanteng yang berprofesi sebagai nelayan pun pulang ke daratan ketika musim panen raya tiba. Entah untuk memanen milik sendiri atau memang sengaja bekerja sebagai buruh petik cengkeh saat musim panen tiba. Mereka adalah nelayan-nelayan tradisional di Negeri Bahari ini yang pasrah dengan hasil tangkapan akibat kenaikan harga BBM, dan harus bersaing dengan nelayan besar dan nelayan dari negara asing. Tak heran kalau setiap harinya banyak seperti mereka yang terpaksa alih profesi untuk mencari rezeki di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi limbah yang mencemari pesisir pantai (seperti limbah plastik), yang menjadi salah satu penyebab matinya ikan-ikan. Hal inilah yang lalu mengharuskan para nelayan tradisional harus pergi jauh mencari ikan sehingga biaya akomodasi pun meningkat; memengaruhi biaya kebutuhan untuk kehidupannya sehari-hari.

Jadi jangan lupa diet kantong plastik untuk mengurangi limbah, karena hal kecil yang kita lakukan bisa saja berdampak besar. Nelayan tradisional hanyalah salah satu contoh. Terutama untuk kita yang hobi ke pantai, jangan hanya berbangga ketika bisa upload  foto di instagram, tetapi berbanggalah ketika tidak meninggalkan secuil sampah pun selama menikmati pemandangan.

Masih berbicara tentang desa Kedungbanteng ini, tentang desa yang  perlahan  kehilangan beberapa pemudanya. Berbeda sekali dengan 5-10 tahun yang lalu, puluhan pemuda masih tumbuh besar di desa ini. Akan tetapi kini, yang masih tinggal dan berprofesi sebagai petani bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan orang tua mereka khawatir dengan kesejahteraan anak mereka di masa depan, banyak yang beranggapan jadi petani itu susah bahkan sengsara sehingga orang tua tidak ingin anaknya kelak hidup seperti dirinya di masa yang akan datang.

Sehingga, tak jarang orang tua memilih bersusah payah menyekolahkan anak-anaknya sampai setinggi mungkin dengan impian anaknya bisa sukses, atau paling tidak menjadi seorang PNS. Tak jarang pula beberapa pemudanya memilih untuk menjadi TKI dengan tekad mengubah nasib, memilih merantau ke Malaysia, Singapura bahkan sampai ke Korea. Yang ternyata, saat tiba di Malaysia, mereka kerjanya di sawah juga, menjadi petani.

***

Berbeda dengan Bapak saya. Pria separuh abad ini selalu memberi wejangan untuk selalu melestarikan tanah rempah yang sudah ada. “Saiki sing penting sekolah, kerjo opo ae iku urusan mburi, sing penting tanah sing wes ono ojo malah didol, lek iso malah ditambahi”–(Sekarang yang penting sekolah, kerja apa saja itu urusan belakangan, yang terpenting tanah yang sudah ada jangan sampai dijual, kalau bisa justru ditambah).

Kurang lebih pemikiran Bapak saya ini mirip dengan Budhe Gunarti, salah satu tokoh Samin yang berjuang memertahankan tanah. Bedanya, Budhe Gunarti mesti berjuang  memertahankan tanah dari pemilik modal yang pro dengan semen.

Kalau ditanya sejak kapan tanaman cengkeh bisa sampai sini, di Desa Kedungbanteng ini, saya juga kurang tahu. Tapi yang jelas sejak dulu, sejak kakek-nenek saya masih hidup (waktu itu saya masih kecil), pohon cengkeh di sini sudah tumbuh besar.

Pohon cengkeh yang sudah tumbuh berpuluh-puluh tahun

Pohon cengkeh yang sudah tumbuh berpuluh-puluh tahun

Bagi mereka yang masih tinggal di desa ini, cengkeh adalah teman hidup yang wajib dijaga dan dirawat keberadaannya. Tahun ini cengkeh di daerah ini dihargai sampai 135 ribu rupiah per kilo. Harga cengkeh bisa berubah sewaktu-waktu, malahan menjelang hari kemerdekaan harga cengkeh menurun hanya di kisaran 80-85 ribu rupiah per kilonya.

Sekarang, tanaman yang pernah (dan masih) diburu oleh bangsa Eropa ini sepertinya kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Hal ini terlihat dari tidak adanya pembinaan khusus pada petani mengenai tanaman ini. Malahan, pembinaan mengenai tanaman cengkeh itu datang dari salah satu pabrik rokok kretek ternama, yang sebenarnya tujuan mereka adalah agar hasil panen para petani ini nantinya bisa langsung dibeli oleh mereka. Maka tak bisa dipungkiri kalau kebanyakan hasil panen di daerah ini jatuh kepada pabrik rokok kretek tersebut.

Cengkeh yang bagus dan berbobot merupakan cengkeh yang belum sempat mekar, lebih tepatnya yang masih memiliki kuncup.

Cengkeh yang bagus dan berbobot merupakan cengkeh yang belum sempat mekar, lebih tepatnya yang masih memiliki kuncup.

Terakhir, ada sebuah tradisi yang tak boleh terlupa sebagai tanda ucapan rasa syukur saat memasuki musim panen yaitu para pemilik cengkeh melakukan acara slametan (syukuran) yang biasa disebut “slametan methik cengkeh” dengan mengundang tetangga sekitar. Menunya pun sederhana; nasi dengan sayur dan lauk pauk lengkap, dan tak lupa yang utama adalah ingkung (ayam utuh). Tradisi ini sesuai namanya, syukuran, berfungsi sebagai perwujudan rasa syukur–sekaligus doa–kepada Tuhan, karena telah dilimpahkan tanah yang subur, cengkeh yang wangi, dan anak-anak yang (semoga) tak minder menjadi petani, seperti nenek moyangnya.

Mula Gusti iku sambaten nalika siralagi nandhang kasangsaran, lan pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti. (Maka sebutlah nama Tuhan, jikalau engkau sedang menderita sengsara, dan bersyukurlah kepada-Nya jikalau engkau mendapat anugerah).

  • Khoirul Rijal

    Saya juga penikmat cengkeh, tapi bukan cengkeh yang di gumul bersama potongan tembakau, melainkan cengkeh yang di olah sebagai bahan penikmat Gulai kambing dan masakan kari lainnya. Dirgahayu Indonesia -Long Live PERIMATRIK

  • axlord

    SALAM SUKSES PETANI INDONESIA
    saya punya cengkeh sumatra kering berkualitas lebih dari 7 ton .. saya rencana mau jual .. buka harga mulai 130.000 nego tergantung pembelian .. silahkan hubungi saya 085743669720

  • levia melinda

    mas, desa kedungbanteng itu ancer2 e mana ya? soale q kurang paham daerah sana. misal e sewaktu2 aku langsung ke lokasi (tanpa perhatikan waktu panen) apa q bisa dapetin cengkeh nya? mungkin cuma beli sekitar 1-2 kg untuk praktikum saja.