Menyiram Kembang Mati

Menyiram Kembang Mati

Menyiram Kembang Mati

Libur musim panas baru saja selesai. Ya, libur musim panas, seperti di sekolah luar negeri. Sejak sebelum puasa kemarin, hampir bertepatan dengan mulainya musim panas, kampus kami libur. Sebagian besar penghuni kampus pulang ke kampung halamannya masing-masing. Yang tersisa di kampus, selain Bapak dan Ibu Satpam, barangkali hanya beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengejar tenggat waktu tugas akhir. Pendek kata, kampus kami menjadi sepi.

Kira-kira sebulan sebelum libur, kami menanam beberapa tanaman dalam pot dan hidroponik, serta membuat terop yang (rencananya akan) dirambati dengan tanaman sirih merah. Tanaman ini, sejak dulu, telah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Sebagai obat kumur, obat keputihan, pun obat diabetes dan kanker. Selain itu, masyarakat di pedesaan memiliki kebiasaan untuk mengunyah daun sirih–menginang–yang biasanya dilakukan seusai makan, untuk membersihkan dan menyehatkan gigi.

Di dalam pot dan hidroponik, kami menanam beberapa lavender yang memekarkan bunga-bunga kecil. Bau wangi yang keluar dari bunga kecil berwarna ungu ini tidak disukai oleh nyamuk. Pernah beberapa minggu saat hujan mulai turun tak menentu, sekre kami menjadi sarang nyamuk. Siapa pun yang tidur di sekre, baik ia sudah mandi atau belum, tak akan terbebas dari serangan nyamuk waktu itu. Nyamuk mengakibatkan tidur tak nyenyak, mimpi tak indah dan akibatnya, kuliah yang dilaksanakan esok harinya akan menjadi sebuah kegiatan yang hambar dan tanpa makna. Nyamuk membuat kami kzl.

Obat nyamuk bakar mengeluarkan asap yang terlampau berlebihan untuk sekre kami yang sempit, membuat napas terasa perih dan sesak. Kami mencari cara lain. Kipas angin yang menempel di plafon dipaksa berputar dengan kecepatan luar biasa, tapi nyamuk ternyata berputar-putar di sekitar telinga dengan sama dahsyatnya. Lalu kami ingat akan apa yang kami punyai. Pot-pot sederhana dengan lavender yang bermekaran di atasnya! Kami petik beberapa, remas-remas dalam kepalan dan membalurkannya pada kulit yang terbuka. Voila! Nyamuk tak berani menyentuh kami. Perkuliahan esok harinya kembali (terasa) mudah dipahami dan dimaknai. Bahagia betapa sederhana.

Libur musim panas baru saja selesai. Kami kembali dari libur panjang, kembali berpetualang. Barangkali, bermain di gunung-gunung, yang sekarang luar biasa sesaknya, tak lagi menjadi sebuah petualangan. Justru perkuliahan, adalah sebuah petualangan yang benar-benar.

“Cuk, kembang e mati kabeh,” kata Tukul dalam bahasa Jawa, mengomentari banyaknya bunga yang mati.

Mas Tukul (baca: tokol) sore itu sedang menyiram kembang-kembang. Di bawah kakinya, daun-daun kering pohon srikaya (atau sirsak?) berserakan. Debu-debu proyek pembangunan apartemen baru di seberang kampus berterbangan. Kayu-kayu bekas membangun kantin yang baru masih belum dirapikan oleh Pak Tukang. Bangku-bangku kantin lama, yang sebelumnya ada tepat di depan sekre kami, sudah dipindahkan ke tempat yang baru.

Beberapa hal memang berubah di sekitar sekre kami setelah ditinggal libur. Sekarang, tembok luar sekre juga sudah dicat ulang, putih bersih. Beruntungnya, mural yang kami lukis dengan perjuangan tak terhapus oleh cat yang baru. Padahal, beberapa tembok organisasi tetangga yang dicat sendiri dengan warna kebanggaan masing-masing, sudah berubah menjadi putih. Beruntung mural kami masih ada, lengkap dengan segala kemegahannya.

Kembali Berpetualang

Kembali Berpetualang

Usai menyiram kembang-kembang dengan watering can berwarna hijau, ia duduk di bangku depan sekre yang telah mengelupas catnya di sana-sini, mengeluarkan rokok, menyulutnya, menunggu senja. Asap yang menyembur dari mulut Mas Tukul terbang ke udara, menari bersama debu-debu. Ia mendongak ke atas, melihat cahaya oranye yang menyerang langit dari arah barat.

Hujan belum juga turun memang. Rumput depan sekre juga mulai menguning. Lavender yang menolong kami dari nyamuk juga tinggal tiga pot saja. Sirih merah yang mestinya menjalar di terop juga layu, mati kekeringan. Tapi, Tukul, tetap menyiraminya meski tanaman dalam pot itu telah kehilangan hijaunya. “Kita harus tetap menghormati yang telah pergi,” kata Tukul.

Mas Tukul adalah lelaki yang penyayang dan berhati lembut. Ia bersedih ketika tanaman-tanaman mengering dan mati. Sebelum beranjak dari Bandung, ia yang paling rajin merawat dan menyiram tanaman di sekitar sekre. Sekarang, ia sedang terancam kehilangan salah satu rutinitasnya itu. Kesedihan tampak jelas memenuhi wajahnya meski tak sampai menangis. Ketika melihat bunga di pot itu sekarat seperti langit yang perlahan berubah menjadi semakin gelap, sekali lagi Tukul menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya, perlahan.

Dengan tatapan teduh, ia bilang, “Ah, ya sudah, lah, tak apa. Yang mati bisa diganti dengan yang baru lagi. Di dunia ini tak ada yang tak bisa digantikan. Yang datang, nantinya mesti pergi. Yang sudah usang diganti dengan yang baru. Ayo, kapan kita cari kembang baru lagi?”

Aih, sedang curhat rupanya, Mas Tukul ini.