Gunung Hawu: Sebelum Runtuh oleh Nafsu

Gunung Hawu, © uncleseronok.blogspot.com

Gunung Hawu, © uncleseronok.blogspot.com

Pada orasi ilmiahnya yang bertajuk Peran Dayang Sumbi dan Sangkuriang dalam Konsep Budaya Sunda tahun 2005 di ITENAS, Hidayat Suryalaga–seorang budayawan Sunda–menafsirkan Sangkuriang yang lahir dari perkawinan antara Dayang Sumbi dengan Si Tumang (anjingnya) sebagai perlambang dari “jiwa yang belum tercerahkan”.

Sangkuriang dimaknai sebagai “ego-ego yang egoistis” dalam hidup seorang manusia. Sedangkan Dayang Sumbi, oleh Abah Hidayat Suryalaga ditafsirkan sebagai “kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati”. Keinginan ego rasio untuk bersatu kembali dengan kebenaran sejati ini dikisahkan melalui keinginan kuat Sangkuriang untuk—bersatu kembali dengan–menikahi Dayang Sumbi.

Legenda Tangkuban Perahu sebenarnya tak sekadar berkisah tentang asal-muasal terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu saja. Ia juga mengisahkan bagaimana terbentuknya gunung dan tempat-tempat lain di sekitaran Bandung, seperti: Gunung Burangrang, Gunung Manglayang, Gunung Bukit Tunggul, dan Gunung Putri, juga kawasan Ujungberung yang berarti “akhir/ujung dari kepongahan hawa nafsu”.

Namun, kisahnya belum berhenti sampai situ saja, masih ada tempat-tempat lain yang dipercaya “dibentuk” juga oleh legenda ini. Budi Brahmantyo–seorang Dosen Geologi ITB, koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung–pernah menuliskan hal ini dalam salah satu esainya yang berjudul Amuk Sangkuriang di Citatah pada tahun 2008 lalu.

Sangkuriang yang egois dan diselimuti hawa nafsu tak ingin pernikahannya dengan Dayang Sumbi menjadi sekadar pernikahan yang biasa-biasa saja dan tak heboh-heboh amat. Penduduk sepuh sekitar kawasan Karst Citatah percaya bahwa setelah menendang perahu buatannya yang urung rampung lantaran kehabisan tenggat waktu, Sangkuriang lantas memorak-porandakan persiapan pesta pernikahannya.

Persiapan pesta pernikahan itulah yang lantas berceceran menjadi tempat-tempat di kawasan Karst Citatah. Pawon yang berarti dapur, Leuit yang berarti lumbung, Pabeasan yang berarti tempat beras, Kancahnangkub yang berarti wajan yang menelungkup, Bende dan Ketuk yang bisa diartikan sebagai alat musik tabuh, dan Manik yang artinya adalah perhiasan. Juga Sungai Cibukur yang dalam bahasa Sunda berarti sisa-sisa makanan (Brahmantyo, 2008). Keberadaan tempat-tempat itu sekaligus dapat diartikan—dalam ranah Legenda Tangkuban Perahu–sebagai bukti kegagalan dari egoisme Sangkuriang dan hawa nafsu negatifnya.

Selain penamaan yang identik dengan pesta, tentunya susah dipungkiri bahwa nama-nama yang disebutkan tadi adalah juga nama-nama peralatan yang dekat sekali dengan kehidupan manusia sehari-hari. Sebagian besar masyarakat yang hidup di sekitar Karst Citatah, Kampung Cidadap, misalnya, masih berprofesi sebagai petani. Dapur, tungku, lumbung, dan pabeasan merupakan hal-hal yang vital, sebagai simbol sekaligus kehidupan bagi masyarakat yang hidup dengan mengolah (bukan mengeksploitasi) alam. Situs-situs di kawasan Karst Citatah ini adalah perlambang kehidupan masyarakat sekitar.

Objek alam yang menarik di kawasan karst, selain Stone Garden–yang belakangan ini sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dari Bandung maupun luar Bandung–, adalah lengkungan alami (Natural Arch) di Gunung Hawu atau biasa disebut juga dengan istilah jembatan alam (Natural Bridge). Jembatan alam ini memiliki kemiripan dengan yang ada di Amerika Serikat, seperti Natural Bridge Virginia dan Arches National Monument Utah. Ada juga Arch Creek, Florida yang telah runtuh pada tahun 1973. Oleh para ahli, Arch Creek dipercaya runtuh akibat “getaran” yang timbul secara konstan dari lalu-lalang kereta dan kendaraan-kendaraan lainnya. Kereta mulai melintas di atas jembatan alami itu sejak sekitar tahun 1840-an, saat perang Florida sedang berlangsung. Setelah runtuh, barulah kawasan Arch Creek secara resmi terdaftar dalam NRHP (Pendataan Situs Bersejarah Nasional) Amerika Serikat pada bulan Juli, tahun 1986.

Sebenarnya, daripada Arch Creek Florida, jembatan alami di Gunung Hawu lebih mirip dengan jembatan alami yang ada di Virginia. Dilihat dari bentuk jembatan dan juga proses pembentukannya yang diakibatkan dari proses karstifikasi. Amerika Serikat—yang belajar dari keterlambatan sebelumnya–telah resmi memasukkannya dalam NRHP pada tahun 1997.

Lain di Amerika, lain lagi di Indonesia. Alih-alih dipugar dan dilestarikan, kawasan Karst Citatah justru menjadi pabrik pelipat-gandaan modal perusahaan tambang. Tak jauh dari Gunung Hawu–sekitar 100 meter–yang memiliki jembatan alami yang unik dan langka itu, terdapat mesin-mesin backhoe perusahaan yang mengeruk tebing dengan perkasa. Di siang hari, ketika pemanjat tebing berkegiatan di sekitar Gunung Hawu, dapat didengar dentuman dinamit yang disusul oleh gemuruh karst yang luruh. Truk-truk pengangkut kapur mondar-mandir, debu-debu berterbangan.

Arch Creek butuh waktu sekitar seabad untuk runtuh setelah terkena “getaran remeh” yang dihasilkan oleh lalu-lalang kendaraan. Akan tetapi, di sekitaran Gunung Hawu getaran itu tak timbul semata hanya dari kendaraan. Ia dihasilkan dari mesin-mesin dan dinamit perusahaan tambang pelipat-ganda kapital.

Bagaimana Sistem Karst Bekerja © wanderingowloutside.wordpress.com

Bagaimana Sistem Karst Bekerja © wanderingowloutside.wordpress.com

Menilik dari kisah Arch Creek, berapa tahun lagi, kira-kira, jembatan alami Gunung Hawu bisa bertahan?

Penambangan Karst Citatah sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Perusahaan tambang yang telah menjadi tempat bekerja masyarakat sekitar nyaris mustahil untuk dihentikan. Sekarang ini, ketika belum ada tindakan yang tegas dari pemerintah, serta belum adanya kesadaran pengusaha tambang terhadap lingkungan, apa yang bisa dilakukan?

Kawasan Karst Citatah, kita tahu, dibentuk dari “kepongahan Sangkuriang” jaman dulu. Sekarang, ia sedang berhadapan dengan kepongahan yang lain. Bukan seperti kepongahan yang dulu, yang menghasilkan sesuatu, tapi kepongahan yang destruktif. Dan sekarang, kitalah yang mesti berlaku sebagai Dayang Sumbi—sebisa mungkin menghalangi nafsu yang destruktif, mengakhiri kepongahan Sangkuriang abad 21, Sangkuriang yang membawa dinamit dan mengendarai backhoe.

Barangkali kita bisa menghalangi kepongahan itu dengan cara menikmati, memelajari, berkegiatan positif sebelum Gunung Hawu dan situs unik lainnya runtuh–dan perlu dicatat, ini adalah selemah-lemahnya perlawanan–,sebelum akhirnya menjadi bahan bangunan dan pasta gigi. Kita, menyelamatkan karst, menyelamatkan Hawu.

  • nur ichwan

    Liar binasa..