Pengalaman Pertama Mencicipi Papan dan Tebing

Pose AMP. XI. 003. BB saat sedang beristirahat di sela-sela pemanjatan.

Beberapa pekan yang lalu tepatnya di tanggal 30 Januari dan 6-7 Februari 2016 , saya dan kedua anggota muda PERIMATRIK lainnya mengikuti Masa Bimbingan (mabim) yang pertama,  Panjat Tebing.

Hari Rabu, 27 Januari sekitar pukul 19.48, setelah berlangsungnya upacara pembukaan Masa Bimbingan kami mengikuti materi kelas, disana kami diperkenalkan dari mulai alat perlengkapan untuk memanjat, teknik-tehnik pemanjatan, macam-macam rock/point dan lain sebagainya yang dikemas dan dijelaskan secara menarik oleh kakak-kakak sehingga kami lebih mudah untuk memahaminya.

Selanjutnya pada 30 Januari, tepatnya hari Sabtu merupakan pertemuan pertama masa bimbingan lapangan kami. Para anggota muda diajarkan dan diperkenalkan cara memanjat di papan panjat dengan tehnik dan prosedural yang baik. Sesampainya ditempat tujuan, saya langsung memandang ke arah puncak/top dari papan tersebut. Perasaan deg-degan pun kerap muncul disela-sela kegiatan, tapi tekad saya kuat untuk terus berproses dan melanjutkan setiap tahapan masa bimbingan ini.

Sebelum melakukan kegiatan panjat di papan, kami terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Panjat agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan lancar. Setelah itu kami memulainya dengan mereview materi, kami membahas mengenai peralatan panjat seperti  harnest, karnmantel, carabiner delta/oval dan lain sebagainya, kemudian dilanjut dengan membahas tehnik pemanjatan seperti yang telah kami tuliskan dalam buku catatan kami.

Sesudah review materi satu persatu para anggota muda (Bang Kopral, Tablo dan Saya) memakai harnest dari webbing yang dibentuk sedemikian rupa, ceritanya harnest handmade gitu. Selanjutnya tak lupa kami mengawali dengan stretching sebelum kegiatan panjat yang memicu adrenalin itu dimulai. Setelah kami siap, maka dimulailah kegiatan yang mengasyikan itu.

Seperti yang disampaikan salah seorang pemangku kepentingan di Negara Super Power, Amerika Serikat, Eleanor Roosevelt pada zamannya bahwa:

Tujuan kehidupan, pada akhirnya, adalah untuk dinikmati, untuk mencicipi pengalaman yang paling hebat, untuk meraih pengalaman-pengalaman baru dan lebih kaya dengan penuh semangat serta tanpa takut

Maka dari itu kami bersiap mencicipi wahana adrenalin ini. Untuk pertama kalinya diawali oleh AM Bentang Buntara 001 Bang Kopral. Dengan semangatnya Bang Kopral ini memanjat hingga runner ke 7 (hampir sampai top loh, Mantap!). Giliran selanjutnya adalah saya dan Tablo tetapi jujur kurang maksimal, karena hanya mampu hingga runner ke-5 (mungkin karena kita berdua faktor belum makan gitu jadinya kurang maksimal)—sedikit alibi saja sebenarnya hehe.

Setelah itu, kami mengaplikasikan materi SRT.  SRT merupakan kepanjangan dari  Single Rope Technic, kurang lebih seperti melakukan teknik pemanjatan menggunakan tali untuk menambah ketinggian. Kesimpulannya, untuk materi lapangan pertama ini kami sangat enjoy dan menikmati semua tahapan materi yang diberikan oleh kakak-kakak lainnya. Saya pribadi menjadi semakin terpacu dan penasaran untuk mendalami materi panjat tebing lebih lanjut.

Pada tanggal 6 Februari, di pertemuan lapangan kedua,  kami melanjutkan materi RC yaitu bouldering yang berlokasi di Punclut (Bouldering sama halnya pemanjatan di papan, tetapi tingginya tidak terlalu menjulang, hanya 3-4 meter saja). Bouldering, menurut saya lebih menantang karena lebih mengandalkan kekuatan tangan dan kami bisa lebih leluasa untuk melatih teknik-tehnik pemanjatan dengan benar, dimulai dari cara mencekram point yang benar, posisi badan, hingga melangkah dari poin satu ke poin lainnya tanpa harus  menghawatirkan ketinggian.

Pada hari terakhir atau pertemuan ke-empat mabim RC,  kami berkegiatan di Gunung Hawu yang bertempat di Padalarang. Para anggota muda telah bersiap mengikuti mabim RC kali ini dengan berbekal materi yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Sesampainya disana, para anggota muda melakukan observasi medan dan wow sepertinya medannya sulit. Disana kami diajarkan mengenai pemanjatan artifisial dan tehnik pemanjatan tebing. Setelah beberapa jam berlalu, saya merasakan pemanjatan tebing sangat berbeda dengan di papan panjat, memanjat di tebing tidak hanya butuh fisik yang kuat tetapi juga kami harus pandai-pandai memiih jalur karena tidak semua batu kokoh untuk dipijak.

Pada intinya, saya dan para anggota muda lainnya berterimakasih kepada kakak-kakak yang telah mengajarkan sebuah ilmu yang menciptakan pengalaman tersendiri bagi kami khususnya. Jujur, kegiatan masa Bimbingan Panjat Tebing ini semakin memacu saya untuk bisa mempelajari lebih dalam lagi dan lagi. Semangat saya, kami, para anggota muda tidak akan pernah sirna untuk terus berproses menuju pribadi yang lebih baik lagi. Salam!