Butak: Melayat Gatotkaca, Melawat Payudara

PERJALANAN INI saya lakukan bersama teman-teman di awal September 2013, ke Gunung Butak, Jawa Timur.

“Ayo, cari taksi di gapura depan,” kata Bayu.

Setelah memastikan semua perlengkapan sudah masuk dalam tas, kami bergegas menuju gapura Jalan Telekomunikasi. Saya melihat jam. Empat puluh lima menit sebelum keberangkatan. Jalanan depan kampus cukup lengang. Vony sudah lebih dulu berangkat ke Kiara Condong untuk menukarkan struk pemesanan dengan tiket kereta.

Satu taksi lewat, ada penumpang. Taksi kedua, berpenumpang juga. Taksi ketiga berhenti. Kosong. Saya, Bayu dan Ocol meletakkan tas di bagasi.

Tujuh belas menit lagi. Di bawah jembatan layang dekat stasiun, jalanan macet sebangsat biasanya. Sepuluh menit. Taksi sampai di depan gapura Kiara Condong.

“Turun sini saja, pak, tak usah memutar, takut telat,” kata saya.

Kami bergegas mengeluarkan tas dari bagasi, membayar taksi dan terbirit, menyelip di sela kemacetan, menyeberang jalan. Sampai di seberang, di bawah gapura, Ocol ingat: sandal gunungnya yang baru ia beli tertinggal dalam taksi. Ia balik lagi ke taksi tadi yang masih terjebak di kemacetan, berlari sambil kami teriaki “tai”. Kami mengerti. Kami sama-sama sudah mengimani kebodohan seperti ini. Bertiga kami lari dari gapura luar Kiara Condong mencari Vony. Kartu pengenal kami keluarkan, memerlihatkannya bersamaan dengan tiket pada petugas, masuk kereta dan berangkat. Nyaris sekali.

Kereta yang kami tumpangi adalah kereta Malabar yang membawa penumpang dari stasiun Bandung menuju Malang, lewat jalur selatan—melewati Jogja. Kami berencana turun di stasiun Wlingi. Perjalanan malam hari di kereta biasa saja, tak ada momen istimewa. Nyaris tak ada pemandangan yang bisa dinikmati kecuali suasana malas di stasiun-stasiun tempat kereta kami menaik-turunkan penumpang. Kami putuskan untuk tidur menyelonjorkan kaki naik ke kursi teman yang duduk berhadapan.

SEBULAN SEBELUMNYA, saya dan Ocol telah melakukan survei untuk perjalanan ini. Kami naik kereta Malabar sore hari, dan tiba di Wlingi sekitar jam setengah enam pagi. Dari stasiun, kami menuju Desa Semen menggunakan ojek. Berdua, kami kena lima puluh ribu rupiah. Entah terlalu mahal atau tidak. Kami turun di pasar, mencari tempat untuk sarapan.

“Tiga ribu lima ratus, mas,” kata ibu penjual nasi pecel.

Mantap betul. Kami pesan dua lengkap dengan segelas teh hangat. Sambil makan, kami bertanya tentang cara untuk mencapai perkebunan Sirah Kencong. “Bisa ojek, mas, bisa naik angkutan juga. Kalau jalan, lumayan jauh. Ikut jalan ini, sampai ketemu kuburan, terus belok kanan, lurus sampai aspal habis. Ikut jalan makadam aja. Paling dua setengah jam, kalau gak berhenti,” ibu penjual pecel menjawab pertanyaan kami dengan bahasa Jawa halus.

Asline pundi to mas?

“Kula Kediri, bu. Rencang kula Niki Lamongan.”

“Oalah, Kediri pundi mas?”

Lalu pembicaraan beralih di seputar hal itu, dengan diselipi pertanyaan tentang perkuliahan. Beberapa kali juga tentang cerita si ibu penjual ketika ia pelesir ke daerah asal kami. Sebagaimana pembicaraan orang-orang yang baru kenal dan sedang berusaha akrab. Seperti pembicaraan dengan orang asing yang terpaksa berjumpa di gerbong kereta.

Akhirnya, kami putuskan untuk berjalan kaki menuju Sirah Kencong untuk menghemat biaya dan mencoba sedikit olahraga. Perjalanan desa, lancar. Begitu aspal habis dan mulai masuk makadam, perjalanan mulai terasa kurang ajar. Panas sekali waktu itu. Kami melewati sebuah peternakan sapi dan kebun kopi yang cukup panjang. Di perjalanan, kami sempat istirahat di gubuk tempat petani kopi biasa beristirahat. Ada dua orang bapak-bapak pencari rumput sedang duduk di situ. Kami berbincang, membuka jajanan, meminum kopi dan berbagi kretek.

“Sekarang, katanya sudah gak bisa lagi cari rumput di sana, takut gunungnya jadi gundul,” kata bapak pencari rumput yang satu setelah meminum kopi buatan kami. Bapak pencari rumput yang lain menjawab, “Halah, lha kae wit-witan ditebangi yo dijarne wae malahan.” Ia mengeluh karena pohon yang ditebang gila-gilaan justru dibiarkan. “Ya sudahlah, kita juga tetap cari rumput saja, biar erosi sekalian,” lanjutnya, sembari tersenyum menampilkan giginya, membetulkan letak topi dan mengambil aritnya bersiap untuk kembali bekerja.

Ya wis, ati-ati, dik!” kata mereka.

Gapura perkebunan terlihat. PTP Nusantara XII, Kebun Bantaran, Afdeling Sirah Kencong. Perkebunan ini ada sejak zaman kolonial Belanda. Di dekat situ ada pos satpam, namun tak ada orang. Saya dan Ocol memutuskan untuk berkeliling; mencari klinik, warung, tempat singgah, tempat ibadah, serta menyapa penduduk sekitar yang kami jumpai. Kami lalu berjalan-jalan ke pabrik pengolahan teh. Ada seorang petugas keamanan. Kami memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan. Mengajukan beberapa pertanyaan tentang jalur dan perkiraan waktu pendakian. Sambutannya ramah. Beliau banyak cerita tentang daerah itu.

“Bapak sering juga naik untuk ibadah. Di sana ada mata air, orang sini biasanya bilang Sendang. Kepercayaan kalau minum air dari Sendang, doanya akan dikabulkan,” kata Bapak yang saya lupa namanya itu. “Banyak pejabat yang ke sana menjelang Pemilu. Sebelum jadi presiden, Pak SBY juga pernah ke Sendang untuk minum air di situ. Makanya bisa jadi,” imbuhnya.

“Yang penting persiapan yang benar, jangan niat buruk kalau mau naik ke sana. Kalau ingin misuh, seperlunya saja. Insyaallah aman.” Ia lalu menyarankan kami agar berkunjung ke air terjun yang ada di belakang pabrik. Kami segera mengiyakan. Berterima kasih, lalu meminta nomor beliau yang bisa dihubungi.

Gunung Butak yang tingginya 2868 mdpl itu sudah terlihat sejak sebelum masuk wilayah perkebunan teh. Bentuknya seperti mangkuk terbalik. Tak membentuk sudut yang tegas. Gunung, yang meski tak terlalu tinggi, tapi menurut hasil mesin pencari memiliki jalur pendakian yang lumayan berat. Nama Butak barangkali berasal dari kata botak. Nama itu mewakili puncak dari gunung tersebut yang memang gundul. Kalau cerah, puncak bisa terlihat dan kita akan menyaksikan kebenaran namanya.

Baling-baling turbin diputar oleh sungai yang mengaliri Sirah Kencong. Listrik dihasilkan dari situ. Desa ini amat bersih dan teratur. Dari bentuk rumah, besar kemungkinan kalau pemukiman ini dibangun oleh pihak perkebunan. Di sini, sinyal susah sekali didapatkan. Hanya ada beberapa operator seluler saja. Meski terkesan terpencil—jauh dari desa tetangga, akses susah, tak ada listrik PLN—fasilitas umum lain seperti klinik, sekolah, tempat ibadah ada di situ. Desa ini amat cocok untuk menyendiri, pikirku. Sunyi dan syahdu. Sekitar jam dua siang, kabut akan turun menyelimuti pemukiman dan hampir seluruh perkebunan untuk menggenapi kesyahduan. Jarak pandang dipangkas jadi hanya lima meter. Itu terjadi hampir setiap hari. Kupikir, orang akan insyaf jika berada lima hari di sini. Dan, satu hal lagi, yang tak boleh dilupa, penduduk di sini ramah luar biasa.

Ketika berkeliling, kami lihat ada sebuah Taman Kanak-kanak dan satu Sekolah Dasar, SDN Ngadirenggo 04.

“Kalau sekolah SMP ya harus ke Gandusari, mas,” kata ibu warung yang sangat baik hati tapi saya lupa namanya.

“Orang sini kebanyakan agamanya apa ya, bu?” saya iseng bertanya.

“Ada Islam, ada Nasrani juga, mas.”

Di warung itu, saya dan Ocol memesan teh hangat hasil asli Perkebunan Bantaran. Namanya Ken Tea. Sudah pasti rasanya mantap betul. “Kalau teh hitam itu zaman Pak Soeharto gak boleh dijual sembarangan, mas. Teh hitam waktu itu hanya untuk diekspor,” kata ibu warung baik hati yang pada kedatangan selanjutnya, kami akan menginap di rumahnya.

KAMI BEREMPAT sampai di Stasiun Wlingi pagi hari. Dari situ kami berjalan ke Polsek Wlingi untuk menyampaikan pemberitahuan bahwa kami akan mendaki Gunung Butak selama tiga hari dua malam.

“Gunung Butak itu bukan masuk wilayah kita, dik. Itu punyanya Malang. Bukan Blitar,” kata seorang petugas.

Dari catatan perjalanan orang-orang yang sempat kami baca sebelumnya, mereka memang memberitahukan rencana pendakian mereka ke Polsek Wlingi. Kami yakin betul tidak salah.

“Di sana itu bahaya. Bulan lalu saja saya juga ke sana. Ada anak hilang, kita yang cari. Bapak Kapolsek juga sampai turun ke lapangan. Saya pulang bonceng jenazah,” cerita bapak itu.

Tak lama kemudian, dengan beberapa perundingan macam-macam, akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan. Kami menuju ke Pasar Wlingi untuk membeli sayur dan lauk yang segar juga minyak tanah yang belum sempat terbeli kemarin. Dengan tas besar menempel di punggung, kami berputar-putar di pasar. Kami berencana memasak sayur sup dengan lauk tempe. Banyak pasang mata memandangi kami. Menyapa dan menanyakan tujuan kami. Mental feodal saya keluar. Saya merasa seperti semacam selebritis atau pejabat.

Pinten, bu, sedaya?

“Wis to, ngger, sampeyan beta mawon, ora usah dibayar! Sing ati-ati ya, dijaga kancane…”

Wuah. Kami terkejut dan girang bukan main. Dapat gratisan, dapat doa dan wejangan-wejangan. Rezeki anak saleh.

Belanja di Pasar Wlingi

Belanja di Pasar Wlingi

Lalu, karena pertimbangan waktu dan tenaga, kami menuju Semen dan Sirah Kencong menggunakan ojek. Naik motor di jalan yang luar biasa kurang ajar itu seru juga. Pantat melompat-lompat dari jok, sarapan pecel terasa bolak-balik dari perut ke kerongkongan ke perut lagi. Di perjalanan, kami melihat bekas pohon ditebang. Di salah satu tunggul, kami lihat plang bertuliskan “HABITAT BURUNG”. Di bawahnya, kayu-kayu gelondongan berserakan. Daun-daunnya belum kering betul. Kami bertanya-tanya, di mana sebenarnya burung yang dimaksud itu tinggal?

Hari itu hari Jumat. Kami sampai di Sirah Kencong sebelum waktu ibadah Jumat. Setelah mengenalkan diri dan melapor ke Pos Satpam, menitipkan KTP, kami bergegas ke tempat ibu warung yang baik hati. Memesan teh dan mendapat bonus senyuman. Saya, Ocol dan Bayu beribadah Jumat di masjid. Perjalanan rencananya akan mulai sehabis itu. Orang-orang salat kira-kira hanya berjumlah sekitar 30-an. Sebagian umat muslim meyakini, ibadah salat Jumat sudah boleh dilakukan dengan orang sejumlah itu. Buat saya, tentu tak masalah. Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Lagipula, jarak tempat salat Jumat yang satu dengan yang lain di sana lumayan jauh. Jadi memang wajib dan sah. Tak seperti di tempat tinggal saya di Bandung yang hampir setiap masjid, terlepas ukurannya kecil atau besar, mengggelar Jumatan. Beradu keras satu dengan yang lain, baik dari volume suara, pun isi khotbah yang disampaikan. Tapi lupakan itu sejenak. Di sini, di Sirah Kencong, semua teduh.

Seusai makan, kami memulai pendakian. Tugas kami pertama adalah menemukan jalur pendakian di ujung kebun teh yang seperti labirin. Perbatasan itu, di peta, bernama Ukir Negara. Tiga jam kami berputar-putar di kebun teh sebelum masuk ke jalur pendakian yang ditumbuhi tanaman kecubung ungu. Tak lama kemudian, langit mulai gelap. Kami membikin bivak untuk berempat, memasak makanan, berbincang sejenak lalu tidur. “Besok berangkat pagi, jam delapan, ya,” kata Vony.

Jam tangan Bayu menunjukkan angka sebelas. Ternyata yang dimaksud “berangkat” tadi malam adalah “bangun”. Kami terlambat dari jadwal. Tapi tak masalah. Kami targetkan hari ini sampai ke puncak. Sambil mengukur, untuk penelitian, kami mendaki pelan-pelan. Di jalur awal, hutan tak terlalu berbeda dengan gunung yang lain. Pohon besar dan tinggi serta lebat, semacam itu. Di pertengahan, vegetasi mulai berganti dengan semak-semak dan pohon-pohon tunggal. Kabut luar biasa tebal. Dan, saya baru sadar, perbedaan gunung di Jawa Timur dan Jawa Barat, di sana tanah dan hawanya kering. Persediaan air kami terkuras dengan cepat. Ditambah dengan jalur yang makin lama makin terjal, keharusan untuk mengukurnya, serta puncak yang tak kunjung juga tampak—pendakian ini kian bangsat.

Sore, sekitar jam empat, kami sampai di tempat di mana semua pohon tertutup lumut. “Oh, ini yang namanya hutan lumut,” kata Bayu. Dari situ, puncak sudah terlihat. Kami nyaris sampai. Sekarang kami sudah di atas awan. Waktu menoleh ke belakang, ke barat, tampaklah di mata kami sesutau yang luar biasa. Permadani awan, menghampar maha luas, bergulung-gulung tak putus-putus. Seperti laut, tapi tanpa ombak. Gunung Kelud dan Gunung Wilis tampak menyembul di kejauhan. Awan ini seolah tampak sama, seperti yang dapat dilihat di ketinggian-ketinggian lain, atau di foto-foto, tapi sebenarnya senantiasa berbeda. Ia berubah; sebentar lagi ia akan jatuh jadi air, dan esok akan membentuk gumpalan baru yang lain lagi.

Waktu Maghrib, kami sampai puncak, tersenyum merasa menang, walau tak yakin betul apa yang dimenangkan. Tapi tak bisa lama-lama di situ. Persediaan air mau habis, dan Sendang, tempat air “keramat” dialirkan itu ada di bawah di sabana, di sisi yang lain. “Kita mesti turun, cari air dan tidur di bawah, angin di puncak bisa gila,” kata Ocol, selaku pemimpin perjalanan. Kabut ada lagi. Entah dari atas atau dari bawah, ia muncul lagi. Membatasi pandangan kami sampai dua meter saja. Dingin luar biasa menembusi jaket dan daging, menusuk hingga tulang. Badan menggigil. Kerongkongan kering. Lampu dari headlamp tak menolong banyak kecuali dua meter. Gelap. Sangat.

“Njing!”

Bayu tersandung dan jatuh. Kakinya sedikit terkilir. Sendang, tempat air itu belum ketemu. Saya dan Ocol pergi ke tempat yang tak terlalu terbuka. Membuka ponco untuk dijadikan tempat bermalam. Mengumpulkan kayu dan rumput kering di sekitar. Menjemput Bayu yang sakit serta Vony yang sedang menemaninya. “Dua derajat!” kata Bayu sambil memperlihatkan pengukur suhu di jam tangannya. Kami membuat api dan memasak makan malam. Sisa setengah botol untuk minum malam itu. Kabut tak kunjung hilang sampai mata memejam.

“Dik, dik, bangun, dik,” kata Vony entah jam berapa. Masih malam. Udara tetap beku.

“Ha?”

“Ini, lho, kayak ada yang gerak-gerak di luar benerin tas!”

“Apa sih?”

Kami tidur lagi. Mengabaikan Vony dan menolak berpikir macam-macam. Dan lagi, dengan kondisi tubuh capai, setengah tidur, dingin dan gelap yang menyelimut: berpikir dan mengira-ngira apa yang terjadi di luar tentu adalah pekerjaan yang berada pada daftar teratas sebagai hal-hal yang tak perlu dilakukan.

“Ah. Kalian!”

Semua tidur pulas. Entah dengan Vony.

Kami bertiga bangun dari tidur, keluar dari bivak dan menghitung jumlah tas. Lengkap. Aman. Lalu tepat di sebelah bivak, terdapat dua batu diletekkan satu di sebelah selatan, satu di utara. Nisan. Ini makam. Ternyata semalam kami tidur di sebelah makam tua.

“Tadi malam itu ada yang mindahin tas ke samping aku, dia kayak lagi berusaha ngelindungin aku dari angin gitu,” kata Vony membahas kejadian tadi malam.

Kami melirik ke makam. Kami tertawa. Semua orang mengerti. Kedatangan kami di sini dijamu dengan luar biasa baik.

Tak jauh juga dari tempat tidur kami, edelweis tumbuh banyak sekali. Tapi tak seperti edelweis yang saya lihat di Papandayan, misalnya, yang hanya setinggi pinggang dan berdaun lebat. Di sini edelweis-edelweis tumbuh sekitar dua meter. Banyak bunga, sedikit daun. Saya dengar, tanaman ini tumbuh dengan sangat lambat. Maka itu ia tak boleh sembarangan dipetik. Melihat betapa tinggi-tinggi ia tumbuh di sini, saya yakin satu hal: gunung ini memang sepi dan jarang didaki wisatawan.

Kami bangun siang. Terlalu lelah dan malas untuk bangun bersama dengan matahari. Saya dan Ocol mengambil air ke Sendang. Kecil, seperti kubangan, dengan ukuran tiga meter. Tapi airnya jernih dan segar. Saya membasuh muka, meminumnya dengan tangan sambil iseng berdoa. Setelah botol-botol terisi semua, saya dan Ocol kembali ke teman-teman untuk memasak sarapan.

“Eh, ada orang!”

Kami lihat satu orang bapak-bapak berperawakan kecil, rambutnya putih sebagian, membawa tas kecil, berjalan seorang diri dari arah Sendang menuju puncak. Kami membereskan barang-barang, berfoto-foto sebentar lalu menyusulnya.

NAMANYA WILLEM. Willem Sigar Tasiam, seorang kelahiran Pontianak, yang usianya saat itu sudah 55 tahun.

“Dari mana pak?”

“Saya lewat Panderman tadi, taunya kebakaran. Akhirnya lewat jalan memutar,” katanya, sambil menunjuk ke arah Malang.

“Sendirian?”

“Iya. Hahaha,” jawabnya sambil tertawa.

Kami mengobrol. Saya iseng mengintip barang bawaannya. Di dalam tas kecil itu hanya ada satu jaket tipis, fly sheet ukuran kecil, kamera saku dan tripod. Air minum yang dibawanya hanya sebotol Fruit Tea. “Saya sedang melakukan ekspedisi 30 gunung dalam 27 hari. Kemarin baru turun dari Arjuno dan Welirang. Tadi Panderman dan sekarang Butak. Besok saya ke Wilis dan Lawu.” Kami melongo tak percaya. Bapak-bapak, naik gunung sendirian? Tentu sukar dipercaya. Ia lalu bercerita. Kami menyimak baik-baik. Malu dengan keloyoan kami sendiri.

“Butak ini, saya dapat informasi kalau di sini dipercaya sebagai tempat apa disebutnya, matinya… tempat pengapesan Gatotkaca,”

Saya ingat-ingat kisah Gatotkaca. Ia dikisahkan mati ketika melesat di angkasa, dihantam senjata pusaka Karna, Kantawijaya, ketika sedang berada di antara awan. Pusaka yang dalam sanskerta disebut dengan Vasavishakti itu menembus dadanya. Tapi Gatotkaca tak mau mati begitu saja. Sesaat sebelum menjumpai ajal, Gatotkaca memperbesar dirinya, lalu mati menimpa pasukan kurawa. Mati dengan tetap berbahaya. Ia pergi sebagai pemenang.

“Gunung Butak ini boleh jadi adalah arena Baratayuda,” katanya.

Di puncak Gunung Butak, ada bendera merah putih yang tertancap dan berkibar-kibar. Mungkin sampai sekarang. Di sekitar situ, beberapa botol bir dan sampah lain berserakan. Kami ambil dan bersihkan sebisanya. Kami lihat, Gunung Semeru di kejauhan sedang mengeluarkan asap. Asap dari Jonggring Salaka. Arjuna dan Welirang terlihat juga. Saya melihat ke barat, ke Kelud, dan tiba-tiba merindukan rumah. Kereta kami melintas Kediri tapi saya tak bisa mampir. Padahal, saya ingat Eka Kurniawan bilang, “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Ah.

 

Willem Melakukan Orientasi Medan

Willem Melakukan Orientasi Medan

Gunung Kawi, Butak dan Panderman, bila dilihat dari Malang—daerah Dinoyo, Bukit Tidar, misalnya—akan secara ajaib membentuk sosok seorang putri yang sedang tidur. Kawi sebagai kepala dan rambutnya yang terurai panjang, Butak yang mangkuk menelungkup telah berhasil membentuk payudara Sang Putri dengan indah sempurna tanpa cacat, dan Panderman membujur membentuk jenjang kakinya.

Saya kenal Sang Putri tidur semenjak Sekolah Dasar. Mama yang mengenalkannya pada saya waktu itu. “Lihat, le, bentuknya mirip putri tidur. Itu kepala, itu badan, itu kakinya,” kata mama. Dan, Tuhan memberkati, sekarang saya ada di puncak payudara Sang Putri. Memanjat, meraba, terjerembab dan mengecupnya langsung. Meminum airnya yang abadi. Dan sekarang, kalau bisa, saya berharap untuk moksa di dadanya yang sempurna. Lenyap dalam kesucian yang memikat, di mana setiap doa bisa dijadikan nyata.

Sebelum turun, kami berfoto-foto dan bertukar nomor. Berharap ketika beliau akan mendaki Burangrang, Gede dan Pangrango akan menghubungi kami.

KAMI TURUN. Hujan juga turun. Deras. Saya, Bayu dan Ocol mandi di pos dekat gapura Sirah Kencong bergantian. Vony mandi di rumah ibu warung yang baik hati. Kami bertiga selesai mandi, balik ke rumah dan sedikit terkejut karena Vony urung selesai. Entah apa yang digosoknya. Di perjalanan pulang, ia cukup kesal karena jalur kebun teh yang kita lewati salah, dan terpaksa berputar-putar hingga tembus ke luar gapura Sirah Kencong. Kami menginap di rumah ibu warung yang baik hati. Memesan pecel, dan tentunya Ken Tea hangat demi kesehatan perut kami.

“Gimana perjalanannya, nak? Sukses penelitiannya?”

“Ya, syukur, bu. Lumayan jalurnya”

“Nanti masuk saja, tidur dalam rumah, ibu sudah siapkan kasur, bantal dan selimut.”

Baik sekali ibu ini. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk di kepala, kami makan pisang goreng. Mantap betul.

“Ini anaknya bu?” tanya saya iseng, melihat foto seorang perempuan yang cukup manis, putih, dipajang di tembok rumah.

“Iya, kuliah di Malang.. Sudah dua bulan dia belum pulang. Katanya akeh tugas. Kuliah sibuk ta, nak? Tapi besok katanya dia mau pulang.”

Saya tersenyum menang.

“Besok sampeyan pagi bangun, truk pengangkutnya berangkat sehabis subuh. Kalau telat, kalian mesti jalan ke Semen, kasihan, capek. Sekarang cepat tidur saja sana,” jawab ibu.

Itu berarti aku tak jadi ketemu mbaknya. Aku tersenyum kecut. Tak jadi menang.

 

Pulang Tanpa Dendam

Pulang Tanpa Dendam