Citarum : Aku Padamu!

Pada tanggal 19 Maret 2016, kami para member fenomenal dari angkatan Bentang Buntara, dijadwalkan untuk mengikuti mabim lapangan ORAD di Sungai Citarum. Menurut informasi di google, Sungai Citarum ialah salah satu sungai terpanjang dan terbesar ketiga di Pulau Jawa, sekaligus mengantarkan Citarum sebagai sungai terkotor di Indonesia dan kami akan menjalani mabim lapangan disana. Mantap bos!

Pada awalnya, kami dijadwalkan hanya satu hari untuk melewati mabim lapangan ini. Namun, karena beberapa pertimbangan akhirnya kami dijadwalkan untuk melakukan duet maut dengan Anggota Muda dari XWASI. Jadilah masa bimbingan kami bertambah menjadi dua hari. Kami dari Bentang Buntara menyumbang 3 personel, yaitu Bang Rangga, Jaka, dan saya makhluk paling ciamik di angkatan ini dan dari XWASI ada Uji, Rangga, Karang, Syarif, Al, Ferda, dan Nova. Yang pada awalnya kami hanya bertiga, kemarin kami melebur menjadi ber-10. Dengan banyaknya orang sepenanggungan seperti kemarin, agak membuat saya mengenang masa Simulasi Besar dulu. Ah, rindu rasanya.

Setelah diinfokan bahwa kami bertiga akan menjalani duet maut dengan Anggota Muda XWASI. Pada hari Kamis malam, kami melakukan rapat dengan Aanggota Muda XWASI beserta senior-senior terkait. Dalam rapat ini kami membahas tentang logistik selama di Citarum nanti. Kami para Anggota Muda pun membuat group line, agar lebih mudah untuk berkomunikasi dan menjadi media untuk lebih dekat satu sama lain.

Kami dijadwalkan berangkat menuju Citarum pada Jumat malam. Betapa ramainya Sekre PERIMATRIK pada malam itu. Kami pun bergegas untuk berangkat ke Citarum. Jalan menuju Citarum cukup lengang pada malam hari. Namun saat sudah memasuki jalur Padalarang, lumayan banyak truk-truk yang hilir mudik. Jadi berhati-hatilah, kawan. Perjalanan dari Bandung menuju Sungai Citarum ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Setelah sampai di lokasi, yaitu di Lapangan dekat Warung Emak. Kami semua bergegas membangun tenda. FYI, di lapangan tempat kami berkemah ini memiliki struktur tanah berbatu. Sehingga pasak susah untuk tertanam dengan baik dan benar. Namun kalian bisa mengakalinya dengan mengikatkannya ke bongkahan-bongkahan batu yang cukup besar yang tersebar di sekitar area kemah.

Hari mulai beranjak menuju pagi, badan terasa lelah karena menempuh jarak yang cukup jauh. Di tenda saya, berisikan Bang Rangga (Kopral), Jaka (Rantang), dan saya sendiri. Kami mereview materi orad ditemani dengan tembang-tembang lawas yang bersumber dari gawai Kopral. Syahdu di tengah pagi ditemani oleh derasnya deburan jeram. Tidak terasa kami bertiga pun tertidur pulas. Sekitar jam 6 lebih, tenda kami diusik. Ternyata kadiv saya yang membangunkan. Kami melakukan pemanasan dan jogging mengelilingi lapangan, dikomandoi oleh Kang Amri (Senior XWASI). Badan cukup relax setelah melakukan pemanasan, kami bergegas untuk sarapan. Selesai sarapan, kami masuk ke materi pengenalan Rescue by rope yang pengisi materinya ialah Mas Bayu (Mantan Kadiv Orad PERIMATRIK). Kami juga berlatih bagaimana melempar tali rescue ini dengan baik dan benar. Setelah berkali-kali, akhirnya kami pun bisa walau beberapa kali masih salah. Rupanya kami kedatangan mentor dari Mapak Alam. Beliau bernama Kang Indra. Beliau adalah atlet Arung Jeram serta atlet Kayak. Dengan perawakannya yang khas urang Bandung, beliau mereview materi orad. Santai namun serius, begitulah kalimat yang diulangi berkali-kali oleh beliau.

Pada sabtu pagi, kami melakukan praktek renang jeram. Renang jeram terdiri dari dua gaya. Yaitu Defensive serta Aggressive. Defensive adalah gaya renang yang mengikuti arus, dilakukan dengan posisi terlentang dan bertujuan untuk menghindari batu-batu yang berada di sungai. Kemudian, Aggressive adalah gaya renang yang melawan arus, dilakukan dengan posisi seperti tengkurap dan bertujuan agar bisa mencapai tepian sungai. Awalnya kami semua terlihat takut, namun setelah berkali-kali diingatkan untuk percaya dengan alat-alat yang kami pakai, ketakutan itupun mulai sirna. Dari arah hulu, kami dipandu oleh Kak Kamal (Kadiv Orad PERIMATRIK tahun ini) dibantu oleh Mas Bayu dan di tepian sungai tidak jauh dari tempat kami berada, Kang Indra telah menunggu dengan Rescue Ropenya. Apa itu Rescue Rope? Rescue Rope adalah sebuah alat rescue berbentuk tali. Dalam konten renang jeram ini, Rescue Rope berfungsi untuk menyelamatkan para swimmer yang lebos atau tidak dapat mencapai tepian sungai. Ya, segala sesuatunya telah dipersiapkan secara baik. Setelah dua kali kami melakukan renang jeram, kami pun mulai naik ke perahu. Saat itu kami diminta untuk mencoba menyeimbangkan irama dayung maju dan dayung mundur. Agar kompak, katanya. Setelah itu kami bergerak menuju lapangan, dengan mengemudikan perahu tentunya. Seru sekali rasanya, kami melewati tiga hole besar. Pada hari ini pun kami melakukan dua kali short-trip. Kami diajarkan bagaimana melakukan ferrying, yaitu melajukan perahu 45 derajat dengan tujuan agar bisa menyeberangi dari sisi lain sungai.

Keseruan mabim waktu, semoga terlalu sulit untuk dilupakan.

Keseruan mabim waktu itu, semoga sulit untuk dilupakan.

Tak terasa waktu telah beranjak ke pukul 15.00 WIB, materi hari ini telah selesai. Agak melelahkan namun juga menyenangkan. Kami diminta untuk beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk hari esok. Tidak lupa, saat malam harinya kami melakukan evaluasi di tengah api unggun bersama para kadiv dan beberapa senior, ditemani dengan kopi hangat yang baru saja kami buat. Evaluasi ini ditujukan agar kami dapat lebih sigap dan siap secara teori dan praktek. Sekali lagi, kami santai namun serius. Evaluasi sudah beres. Saatnya istirahat. Namun ternyata tidak. Kami kembali asik bercengkrama satu sama lain.

Malam itu para AM XWASI sedang berkumpul dengan para senior XWASI yang baru saja sampai ke lokasi, sore tadi. Sedangkan, kami para AM PERIMATRIK pun sedang asik bercurhat ria dengan Mas. Cukup lama kami bertukar cerita, hingga akhirnya kami kalah dengan rasa kantuk. Kami pun kembali ke tenda, begitupun dengan AM XWASI yang nampaknya juga mulai kelelahan. Namun, lagi-lagi. Entah energi cadangan apa yang teman-teman saya punya. Beberapa dari kami, sibuk bercengkrama lagi di luar tenda. Sementara saya sendiri berusaha fokus untuk segera tidur di tengah malam yang gerah di Citarum ini.

Hari Minggu pun tiba. Entah mengapa saya sangat menyukai suasana subuh. Waktu subuh di Citarum sangat sejuk, kawan. Belum lagi disponsori dengan deburan jeram yang tidak terlalu deras, membuat cuaca sangat mendukung untuk terlelap lebih nyenyak. Iya, saya senorak itu. Sebelumnya saat malam hari, udara di tenda kami panas dan membuat gerah. Ini tenda atau box sauna? Entahlah.

Terdengar samar-samar suara sang kadiv di sebelah tenda. Ah, seperti biasa kami pun dibangunkan. Setelah cukup lama mengumpulkan niat untuk beranjak dari matras, akhirnya kami semua pun sudah siap untuk menjalani hari terakhir liburan di Sungai Citarum. Ya, sambil menyelam minum air memang. Selain untuk menjalani masa bimbingan, ini pun ajang kami untuk tetap merasa hidup. Rutinitas Kostan-Kampus-Sekre-Kostan, agaknya telah melelahkan untuk dijalani 5 hari berturut-turut. Kami pun melakukan pemanasan dan jogging mengelilingi lapangan. Setelahnya, kami digiring untuk melakukan scouting. Scouting adalah Orientasi Medan. Ada satu kalimat yang selalu tertanam dalam benak saya apabila sedang menjalani kegiatan bersama PERIMATRIK, salah satu senior saya seringkali mengulanginya sejak Bentang Buntara memulai mabim RC. Kalimat itu ialah “We need to observe!” -dengan logat jawanya yang totok, itulah Mas Tukul. Ya, scouting/observasi ialah step awal yang sangat penting dalam segala kegiatan outdoor. Selanjutnya, Kak Kamal dan Kang Hendra (Mantan Kadiv Orad Xwasi) mengingatkan bahwa akan ada dua buah undercut yang akan kami lalui. Undercut ialah salah satu momok yang menakutkan bagi para pengarung. Undercut terbentuk karena adanya gerakan arus deras yang menghantam dinding tebing atau batu sehingga membentuk lubang atau goa yang relatif dalam. Menurut cerita dari Mas Bayu dan Kak Kamal, apabila masuk ke undercut, peluang untuk hidup adalah 1%. Ya Tuhan. Undercut di Sungai Citarum berada di sebuah kelokan dan terletak di sebelah kiri sungai. Setelah lagi-lagi mengingatkan agar kita tetap tenang dan tidak panik, akhirnya kami beranjak menuju tempat kemah untuk sarapan bersama dengan perasaan agak khawatir.

Setelah selesai sarapan, beberapa dari kami ada yang bertugas untuk memompa dua perahu yang akan dipakai dan ada juga yang sibuk membereskan peralatan masak. Kegiatan memompa perahu inilah yang menyita banyak waktu. Setelah selesai dipompa, kami melakukan portagging. Portagging juga merupakan salah satu kegiatan yang lumayan melelahkan apabila diulangi beberapa kali dalam kurun waktu yang dekat. Singkat cerita, kami melakukan dua kali short-trip. Setelah itu kami diberi waktu istirahat makan siang.

Jujur, saya sangat takut dalam mabim kali ini. Sebelumnya saat mabim lapangan RC pun saya sangat takut di tebing. Saya khawatir ketakutan saat di tebing, terjadi lagi saat saya menjalani Long-trip di Sungai Citarum ini. Namun melihat teman-teman dan para senior yang entah mengapa sangat bersemangat siang itu, membuat saya gengsi juga untuk mengatakan bahwa saya takut. Oke, saya paksakan untuk terlihat ceria nan pasrah. Kami mulai mengarung. Baru saja diinstruksikan dayung maju, jeram-jeram langsung menyapa kami dengan ramainya. Tak terasa kami sudah hampir sampai di kelokan dimana dua undercut itu berada. Perahu yang dikomandoi oleh Kang Hendra telah mengambil jalur kanan, namun perahu yang saya dan teman-teman kemudikan masih berada di jalur kiri. Saya agak was-was saat melihat ke arah kadiv saya yang terlihat santai namun serius. Lalu, instruksi itu pun diteriakkan di tengah derasnya jeram, “Maju Kuaaaaat” dan kami para AM pun membeo “Satu…Dua…Satu…Dua” hingga akhirnya kami berhasil melalui dua undercut itu. Mantap sekali memang sang Kadiv (baca : Kak Kamal). Kami pun lumayan banyak melewati hole dan standing wave. Kalau tidak salah hitung, kami juga melewati 3 strainer. Strainer adalah hambatan. Hambatan disini bisa berupa dahan pohon atau juga batu. Saat ada strainer, akan ada beberapa instruksi, yaitu boom, pindah kanan, pindah kiri, pindah depan, atau pindah belakang.

Saat jeram sudah tidak ada cenderung flat, kami diinstruksikan untuk pindah kanan. Lalu perahu di-flip. Flip adalah salah satu materi yang diajarkan. Guna flip ini adalah untuk membalikan perahu terbalik saat pengarungan. Perahu kami pun dibalikkan dengan menggunakan flip line serta paddle yang disangkutkan di tali perahu. Rasanya saya sudah pasrah dengan segala hal yang akan terjadi, jadi saya tidak panik. Kemajuan, yeah. Lagipula, ternyata memang tidak semenakutkan seperti apa yang ada dalam imajinasi saya atau mungkin Tuhan sedang sangat baik sehingga rasa takut saya dihilangkan? Tuhan Maha Awesome.

Setelah perahu di-flip, kami diinstruksikan untuk mengembalikan perahu ke posisi semula. Kini yang bertugas adalah saya dan Bang Rangga (baca : Kopral). Beliau mengambil posisi di atas perahu yang terbalik dan saya berada di bagian dalam perahu sambil memeluk thwart (bagian perahu) dengan kencangnya. Tidak, saya tidak sedang dalam keadaan rindu pelukan. Guna memeluk thwart ini ialah agar ada pemberat saat perahu akan dibalikkan dan kami pun berhasil. Yes! Karena saya yang berada di atas perahu, saya bertugas untuk membantu para awak yang masih di dalam air untuk segera naik ke perahu. Target pertama adalah Kopral. Setalah Kopral sudah berhasil saya naikkan ke atas perahu, beliau diinstruksikan untuk melakukan Rescue by rope. Rescue by rope adalah tindakan penyelamatan dengan menggunakan tali. Satu persatu diselamatkan. Kemudian, secara bergantian kami pun melaksanakan tugas masing-masing. Ada yang bertugas mem-flip perahu, lalu ada yang bertugas menjadi pelempar tali, mendayung, juga ada yang bertugas memegangi paddle. Para kadiv pun juga mempunyai tugas, mereka bertindak sebagai korban dan kami lah yang mempunyai tugas untuk menolongnya. Seru sekali sore itu, hingga tak terasa kami telah sampai di finish. Begitu sampai di finish, kami segera membereskan perahu dan memakan persediaan cemilan yang tadi kami bawa dari start pengarungan.

11 km, bukanlah jarak yang dekat. Ditambah dengan rasa penasaran. Makin terasa jauhlah jarak itu. Namun, akhirnya kami telah sampai di tujuan. Bahagia rasanya. Mobil jemputan pun datang, kami bergegas menaikkan dua perahu yang telah dikempeskan dan dilipat dengan baik. Setelahnya kami pun naik satu persatu. Kondisi mobil bak terbuka ini nampaknya sudah seperti mobil ibu-ibu yang akan pergi ke pengajian kampung sebelah. Ramai dan sesak. Sepanjang perjalanan menuju lokasi kemah, kami bersenda gurau dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Ada saja hal-hal ajaib yang para AM serta senior kami lakukan atau utarakan. Tiba di lokasi kemah, kami segera mandi satu persatu di kamar mandi yang tersedia di depan Warung Emak. Setelah segar, kami pun membereskan barang-barang dan segera bersama-sama pulang ke Bandung. Liburan telah usai.

Saya sangat senang sekali minggu ini. Karena saya berhasil melawan ketakutan saya. Kuncinya memang harus percaya dengan diri sendiri dan teman satu tim, komando, alat dan tentunya percaya dengan Tuhan Yang Maha Awesome itu. Terima Kasih kepada Kak Kamal, Mas Bayu, Kang Indra, Kang Hendra, Kang Amri, Kang Apis, serta Kang Cengli yang telah membagikan ilmu oradnya serta sabar mengajari kami. Tidak lupa juga terima kasih kepada senior-senior baik dari Perimatrik maupun Xwasi, yang telah ikut membantu kelancaran mabim kami kali ini. Juga untuk para AM XWASI, terima kasih telah meramaikan suasana mabim Bentang Buntara. Tanpa kalian, portagging akan terasa sangat berat. Serta terima kasih kepada Sungai Citarum yang dengan jeram megahnya telah menyambut kami dengan baik dan istimewa. Citarum, Aku padamu sayang!

p.s : masa-masa menjadi Anggota Muda ini akan sangat dirindukan nantinya. Percayalah.

  • Bayu Aulia

    Mantap.. Kamu memang maha awesome ;)