DANAU CIHARUS, HALIMUN DAN SEDIKIT KISAH TENTANG PELARIAN

“Panggil aku Shodanco,” kata si lelaki tua. “Aku kedinginan, izinkanlah sejenak di depan tungkumu.”

Rosinah menilainya dengan sedikit rasional. Mungkin ia benar benar seorang Shodanco, di masa lalu memimpin sebuah Shodan, mungkin di Daidan Halimunda, dan ia memberontak pada Jepang sebelum melarikan diri ke hutan. Ia mungkin terjebak disana selama bertahun-tahun, dan tak pernah tahu bahwa Jepang dan Belanda telah lama pergi dan kita punya republik dengan bendera dan lagu kebangsaan sendiri. Rosinah memberinya sarapan pagi dengan pandangan penuh rasa haru, sedikit penghormatan yang berlebihan.

Sedikit kutipan dari novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan.

Tak ada Shodanco kedinginan di sana, justru yang ada kami sendiri  yang  mulai merasakan dingin itu, selepas menempuh perjalanan selama hampir 4-5 jam dari puncak Gunung Rakutak. Akhirnya tibalah kami sekitar jm 6 petang di tempat tujuan, Danau Ciharus. Jelas tak ada tungku yang tersedia untuk kami menghangatkan diri, apalagi keberadaan Rosinah disana, jelas tidak ada. Kami disambut dengan suasana sendu danau sore hari tak ada halimun kala itu, walaupun keadaan sempat turun hujan. Mungkin mereka bersembunyi sebab malu karena belum sempat mempercantik diri. Beruntung, ada lahan datar yang tersedia untuk kami mendirikan tenda. Kami bergegas membangun tempat untuk kami beristirahat, bergantian masuk tenda mengganti baju basah kami dengan baju yang masih kering. Alhamdulillah mulai hangat.

Seperti biasa kami memasak makanan dan bergegas istirahat, tak lupa kami membuka sesi curhat sebelum akhirnya kami tertidur lelap. Pagi-pagi saya dan Amal bangun. Yang tak boleh terlewatkan saat sedang melakukan perjalanan adalah hunting—mengabadikan kenangan. Lalu kami duduk di depan tenda membuat minuman hangat.

“Kok bisa ya warna langit biru?” Amal bertanya entah kepada siapa.

“Coba tanya sama pelukis langit,” saya jawab seadanya, seperti itu, sebab saya juga tak tahu.

Yang pasti pagi itu indah, sebelumnya halimun yang saya rindukan kedatangannya menyempatkan diri turun menyelimuti danau. Benar-benar cantik sekali Danau Ciharus pagi itu. Namun sayang danau terlihat kotor tak jarang kami menemui sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung, yang membuat Danau Ciharus kurang elok dipandang.

Suasana Danau Ciharus pagi hari.

Suasana Danau Ciharus pagi hari.

Kisah pelarian pernah terjadi di sana. Masa kelam tanah air tentang pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII) pimpinan Sekarmadji Kartosuwiryo. Dahulu kala TII dianggap mengancam keamanan NKRI dan dianggap pemberontak. Dan untuk menghilangkan pemberontakan itu Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi menggelar operasi Pagar Betis. Mereka melakukan pengepungan, menggiring TII agar masuk kedalam daerah yang sudah ditentukan, kala itu daerah tersebut adalah Gunung Rakutak. Beberapa anggota TII ada yang terlalu jauh melarikan diri untuk mengindari tentara, hingga akhirnya mereka bertemu Danau Ciharus. Beberapa dari mereka bukan mengakhiri pelarian tapi mengakhiri kehidupan, sebagian dari mereka yang terdesak menceburkan diri ke dalam Danau Ciharus bagi yang tak bisa berenang maka mereka mati. Itu hasil saya baca-baca di google untuk kebenarannya Wallah Hua’lam Bissowab.

Tragis, Gunung Rakutak dan Danau Ciharus harus menyaksikan kesedihan kala itu. Sebenarnya bagi saya pribadi perjalanan kali ini juga merupakan suatu pelarian, rupanya setelah liburan UTS kemarin  saya sudah mulai merasakan bosan menjalani rutinitas kuliah. Saya lebih senang berkegiatan seperti ini dari pada harus masuk demi mementingkan absen ketimbang isi kuliah itu sendiri, sepertinya saya benar-benar bosan. Menyedihkan sekali nasib saya. Karena sistem kampus mengharuskan mahasiswanya hanya boleh absen selama 3 kali di tiap mata kuliah, selebihnya kami tidak bisa mencicipi bangku UAS. Kenyataannya adalah nasib kami ditakdirkan dalam hari-hari yang disebut UAS, mau tidak mau kami harus bisa mengelola jatah absen kami. Selain itu jare Ibu yang utama adalah kuliah maka saya juga harus tetap berpegang pada prinsip itu.

Kamis, 25 Maret 2015. Sekitar jm 9 malam hp saya menggigil, tak berarti dia kedinginan. Rupanya banyak notifikasi dari official line dan dari grup-grup yang mungkin sedang asik melakukan percakapan. Tapi satu notifikasi yang saya tunggu, balasan dari Amal (Kadiv Gunung Hutan X-WASI). Nggak fast response banget padahal sedang genting-gentingnya, saya merasa di-php-in malam itu. Sebelumnya mas Ocol juga hampir nge-php-in saya, dia sempat bilang kalau dia kirim kabar hanya untuk mengatakan kalau dia batal ikut, apa tidak sakit rasanya? Dia mengaku sedang terserang flu, pilek tiada henti-hentinya. Tapi saya yakin betul Mas Ocol tak pernah khianat, karena sampai sejauh ini dia orang yang selalu setia menemani saya survei mulai dari tempat untuk simulasi besar sampai tempat diklatsar, terimakasih banyak Mas Ocol.

Waktu saya di sekre Mas Ocol tiba-tiba datang, dia sudah packing dan sudah ready. Lalu Mas Ocol bilang: “Tapi aku nggak bisa lama-lama aku ada futsal sabtu sore”.

Saya mengiyakan karena rencana awal kami memang berangkat kamis malam, itu berarti sabtu pagi kami sudah bisa turun. Tak lupa dalam perjalanan ini Mas Ocol ngajak adiknya, Mas Tukul. Rencananya kami akan melakukan survei ke Gunung Rakutak kemudian berlanjut menuju Danau Ciharus. Rencana awal berangkat malam berubah menjadi berangkat subuh, subuh pun berubah menjadi jam 7 pagi, dan pada kenyataannya kami berangkat hampir jam setengah 11 siang karena beberapa faktor yang tidak disangka-sangka kedatangannya.

Perjalanan kali ini mengantarkan saya, mas Ocol, mas Tukul, Amal, Bang Hafidz, dan Kang Syarif tiba di alun-alun Ciparay sekitar jam 11.20. Disana kami memutuskan untuk istirahat dan makan, mas Ocol pun ngajakin makan di warung nasi padang on fire. Nggak sengaja pas makan disana, gas LPJ 3 kilonya terbakar mengeluarkan api yang bikin kami lari kocar-kocir karena takut meledak. Tapi untungnya hal itu tidak sampai terjadi,  beberapa orang berdatangan membantu memadamkan. Lalu kami bersyukur, dan melanjutkan makan.

Perjalanan berlanjut, sekitar jm setengah 1 siang kami tiba di basecamp Rakutak. Jam 2 siang kami memulai pendakian. Beberapa jam berjalan, ditengah perjalanan kami disapa hujan. Hal itu tak menyurutkan langkah kami, sambil diiringi lagu dari speaker Mas Ocol kami tetap melanjutkan perjalanan walaupun sedikit selow. Tiba di pos 1, pemandangan yang selalu saya suka, halimun yang mulai turun, berpadu dengan pepohonan, sungguh syahdu. Halimun juga turut menghiasi puncak Rakutak pemandangan yang indah terlihat dari pos 1, sayang saya tidak bisa mengabadikannya sebab hujan.

Kami masih diguyur hujan hingga Tegal Alun, hampir jam 7 malam, kami memutuskan berhenti dan makan. Sebenarnya kami berniat untuk melanjutkan perjalanan, namun kondisi kami yang kedinginan dan beberapa diantara kami sudah mulai menggigil akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp dan mengutamakan keselamatan.

Malam kami lalui dengan kopi, lagu-lagu lawas dari memory card Bang Hafidz, dan percakapan-perckapan ringan. Tidak terlalu lama kami pun tidur, mengistirahatkan tubuh yang lelah. Pagi hari, Amal bangun terlebih dahulu, lalu ia membangunkan saya untuk tidur diluar sebab kondisi tenda yang sempit karena berisikan 6 orang, semalam Mas Tukul juga tak nyenyak tidurnya dia mencoba berbagai posisi, nyempil-nyempil sampai tidur duduk pun dia lakoni.

Setengah 8 pagi kami bangun, menyiapkan sarapan dan akhirnya makan pagi.

“Jadi gimana planning kita Col? Lanjut apa pulang?” Mas tukul bertanya di sela-sela makan.

“Ya pulang,” kata Mas Ocol.

Bang Hafidz bingung, percakapan semalam juga sempat membahas planning untuk lanjut atau pulang tapi Bang Hafidz mengira Mas Tukul dan Mas Ocol hanya bercanda. Selesai makan, kami packing, disitulah kami mulai berpisah kami melanjutkan perjalanan, Mas Ocol dan Mas Tukul memilih pulang. Tak apa setidaknya mereka berdua sudah menemani perjalanan kali ini dan seperti kisah pewayangan, lakon mereka berakhir sampai di Tegal Alun.

Foto bareng sebemum berpisah.

Foto bareng sebelum berpisah.

Tidak disangka ternyata dari Tegal Alun menuju puncak hanya 45 menit, jika semalam kami melanjutkan perjalanan tentu Mas Ocol dan Mas Tukul sempat berdamai dengan puncak Rakutak. Tapi tak apa, saya ingat mereka pernah bilang bahwa puncak bukan tujuan utama tapi kembali lagi ke rumah dengan keadaan selamat adalah tujuan. Apa tak ngeri?

Saya yakin mereka tak akan menyesal. Semoga.

Sekitar jam setengah 2 siang kami beristirahat, Danau Ciharus sudah terlihat, kami senang bukan kepalang. Tapi kami harus berjalan lagi, berjalan menuruni gunung serta menyusuri sungai, saya seperti didiklat kembali oleh anak-anak yang tergabung dalam Exsplorasi Mahasiswa Seni ini. Selama perjalanan Bang Hafidz selalu mbribik Amal untuk dijadikan istri kedua, amal sepertinya menolak, tapi dalam hati siapa yang tahu. Serta kang Syarif yang pendiam, saya yakin selama perjalanan dia tak henti-hentinya bertasbih dan berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan. Dia berjalan paling akhir—menjadi sweeper, dia orangnya juga selow lebih selow dari orang Malang.

Danau Ciharus nampak dari kejauhan.

Danau Ciharus nampak dari kejauhan.

Saya juga sempat was-was hari mulai gelap tapi belum tiba juga di tempat tujuan. Tapi yang terpenting adalah keyakinan. Tak beberapa lama kemudian kami melewati tanjakan lalu Danau Ciharus benar-benar di depan mata.

Setelah semalaman beristirahat disana, sekitar jam 10 pagi kami memutuskan pulang. Perjalanan hampir 2 jam, kami mengikuti rute motor trail, banyak yang berkegiatan waktu itu.

“Aa nebeng dong, nggak usah sampek pelaminan, sampek Kamojang juga gapapa kok,” kata Amal, mungkin dia lelah dan mencoba menghibur diri sendiri.

Selama perjalanan kami juga sempat bertemu dengan pemburu babi yang membawa anjing-anjing. Kami berjalan melewati Pertamina lalu melewati desa, Bang Hafidz yang sudah mendahului kami ternyata sudah mendapatkan angkot. Dari jauh angkot itu berjalan mundur menghampiri kami, saya dan Amal kaget juga terharu sepertinya sang supir paham betul kalau kami benar-benar lelah. Dari Kamojang kami harus berkali-kali oper angkot sampai akhirnya tiba di alun-alun Ciparay. Kami beristirahat di Masjid dekat alun-alun, Bang Hafidz dan Kang Syarif pergi meninggalkan kami ke basecamp Rakutak menaiki angkot sekali lagi untuk mengambil kendaraan kami yang kami simpan disana.

Kurang lebih 1 jam kami menunggu, mereka akhirnya datang dan kami bergegas pulang. Saya tak pernah menyangka kisah pelarian menuju Gunung Rakutak hingga Danau Ciharus akan berakhir seperti ini, terbayarkan. Sungguh tiada yang sia-sia.

  • Komunitas satubumikita

    Mari dukung gerakan #SaveCiharus #SaveleuweungCiharus

    Mari dukung untuk tidak berkunjung ke Kawasan danau Ciharus. Ciharus merupakan kawasan yang berada dalam wilayah konservasi alam tertinggi, dan tidak boleh dimasuki tanpa ijin, bisa dimasuki hanya untuk tujuan penelitian dan pendidikan.

    Terima kasih.