MABIM GH DAN KEKONYOLAN RANTANG DALAM PERJALANAN

Oke guys, ini adalah kisah mabim terakhir, sebelumnya tak ada mabim yang sempurna, seperti mabim Rock Climbing  yang terkadang lupa dengan nama alat-alat nya, mabim konservasi dengan terop yang kurang beres, mabim ORAD dengan miskomnya dan yang tidak kalah penting yaitu saya yang harus putus dengan pacar hahahahaha (maafkan kalo sedikit curhat). Sekarang  saatnya giliran mabim Gunung Hutan (GH).

Hari kamis 31 April 2016 tepatnya, kadiv GH tersantai dari Malang ngabarin kalo kami akan mabim di Rakutak. Gunung yang dulunya pada zaman DI/TII digunakan sebagai tempat pengepungan. Dengan persiapan serentak kami Bentang Buntara pada hari Jumat menyiapkan segala sesuatunya. Rantang ngeprint peta, Tablo ngurus proposal dan saya belanja logistik. Setelah semua persiapan beres kami bergegas menuju sekre tercinta untuk persiapan perjalanan ke basecamp  Rakutak.

Sekitar jam 1 dini hari pada hari Sabtu kami berangkat menuju basecamp Rakutak dan dalam perjalanan sial pun menimpa saya. Saya brangkat bersama Cuni, kadiv GH sekaligus wonder woman asli Malang dengan semboyan “karena Malang suuuantai sayang”. Ketika saya lagi asik ngobrol dengan Cuni, jalan pun kurang saya perhatikan, alhasil sial menimpa saya. Motor saya melewati lobang yang cukup dalam (sedalam luka saya) sampai-sampai ban motor pecah dan velg motor retak. Dengan segala pertimbangan akhirnya saya kembali lagi ke sekre untuk menukarkan motor. Untung ada mas kanda tercinta yang autis dengan Pramoedia nya. Saya manggil dia Mas Kalim, karena umur dia yang lebih tua dari saya 4 tahun. Hahahaha…

Mas Kalim is better more than apapun lah. Dia bersedia meminjamkan motornya buat saya bawa mabim. Akhirnya saya pakai motornya dan melanjutkan perjalanan. Setelah bergabung kembali dengan Tablo, Rantang, Cuni, Yuning, Fika dan Mas Ocol  akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan tiba di basecamp pukul 03.00 dini hari. Kami disambut hangat oleh Kang Agus, bisa dibilang beliau adalah sesepuh dan sekaligus pengurus di basecamp saat ini. Setelah ngobrol ngaler ngidul saya ngutip kalimat yang bikin termotivas buat jaga alam ini. Beliau bilang “kurang pas daki gunung kalo ga nanam pohon” sepenggal kalimat itu sangat bermakna sekali. Itulah sebabnya mengapa setidap pendaki dibekali bibit untuk nantinya ditanam saat berada di sekitar lokasi Gunung Rakutak. Tak beberapa lama dari percakapan itu, kami merasa lelah dan akhirnya kami beranjak satu persatu istirahat. Pada saat itu yang pertama istirahat yaitu orang paling kece di tongkrongan kami, Rantang. Rantang orang pertama yang rehat dengan muka lusut dan posisi duduk kemudian disusul dengan yang lainya.

Pagipun mulai tiba, saya dan Mas Ocol mulai berkeliaran mencari makan, lalu kami  makan bersama untuk mengisi tenaga. Pukul 09.00 kami memulai perjalanan, sebelumnya kami menunggu Tablo yang sedikit kepo untuk orientasi medan bersama Kang Agus. Saat saya berangkat saya membayangkan rumus koreksi sudut. Walaupun rumusnya tak serumit the cost of capitalnya Keown tapi koreksi sudut itu harus tau deklinasi, UP nya ada disebelah mananya UM dan harus menghitung terlebih dahulu VM. Tapi ternyata kegelisahan itu tidak terjadi. Untuk mengetahui dimana lokasi pertama kami saat itu, kami hanya disuruh konversi dari GPS ke peta, karena memang susah jika harus melakukan navigasi darat(navdar) sebab tak ada kenampakan alam yang terlihat kecuali rumah warga.

Setelah kami tahu ada dimana kami berada, akhirnya kami pun bergegas jalan dan melakukan ploting selama perjalanan. Orang yang pertama ploting itu saya, kemudian Tablo dan Rantang. Ploting yang kami lakukan nyaris sempurna, hanya saja kami belum bisa mengukur sudah sejauh mana kaki ini melangkah. Kami hanya tahu posisi kami dalam peta dengan melihat kontur peta dan kenampakan alam. Sekitar pukul 13.00 tibalah kami  di pos 1, kami istirahat makan dan shalat. Di pos 1 kami lumayan lama karena kami masak, saat akan berangkat hujan sangat deras menghampiri kami akhirnya di pos 1 kami cukup lama sampai pukul 16.00. Track dari basecamp ke pos 1 masih bisa dibilang landai, hanya saja jalur yang dilalui sedikit becek dan gada ojek. Karena hujan tak kunjung reda akhirnya kami melanjutkan kembali perjalanan dari pos 1 menuju Tegal Alun.

Ploting saat dalam perjalanan.

Ploting saat dalam perjalanan.

Dari pos 1 ke Tegal Alun track nya lumayan sedikit sombong, kami tidak diberi bonus tempat yang landai. Sejauh mata memandang tanjakan semua dan seolah melawan aliran sungai karena hujan dan air mengguyur kami dari arah kami naik. Saat itu yang paling dikhawatirin itu Tablo, tetapi saya salut sama semangat yang Tablo kibarkan. Langkah demi langkah Tablo mulai melemas namun semangat itu berkobar lagi. “Slow but sure” ini yang saya suka dari Tablo walaupun sedikit bloon. Pukul 17.00 kami tiba di Tegal Alun, dengan segala perbincangan akhirnya kami memutuskan untuk camp di Tegal Alun. Para senior mulai sibuk membangun tenda dan kami sibuk membuat bivak. Setelah semua beres kami masak, makan, evaluasi dan ngobrol santai.

Malam semakin malam, kami memulai sebuah obrolan hangat di depan tenda. Setelah ngobrol panjang lebar dan tiba akhirnya. Jreng jreng acara yang tak terduga untuk bedah lagu. Semua berbincang tanpa Fika. Fika tidur paling cepat karena kelelahan. Disitu kami ngebahas lagu, lagu yang paling pertama di bahas itu NAIF yang berjudul Benci Untuk Mencinta.

Sebetulnya keadaan ini tidak direncanakan, tapi tiba-tiba Yuning nyaut “ini lagu ko bingung yah buat d tafsirkan, liriknya jelimet” dan nyautlah si pangeran kodok Rantang dengan muka polosnya “jadi gini loh teh, dia itu cinta tapi benci”.

Yuning dan ocol pun ngebales “ya enggalah kan benci untuk mencinta gimana seeh ??”

Rantang : “engga teh,dia itu benci untuk mencintai dia. Entah karena apa gitu awalnya,tapi dia mulai suka. Makanya dia benci”

Entah lah. Dengan segala statement yang kami berikan seolah tidak masuk di otak Rantang. Karena saya panik akhirnya saya nawarin rokok ke dia. Karena dengan rokok bisa sedikit menggeser otak Rantang pada posisi yang sebenarnya.

Karena belum puas, akhirnya lanjut ke lagu yang ke 2. Lagunya ten 2 five yang I Will Fly. Yuning nanya sama Rantang “lagu ini apa makna nya jak ?”.

Jaka sedikit bingung dan dengan pembelaanya dia jawab “aduh ga tau teh kalo orang indo yang nyanyi english, pronun nya ga jelas”.

Hahahahahahaha kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Rantang. Karena khawatir dengan keadaan Rantang saya nyuruh buat ngebikin kopi biar gak panik dan salah faham. Akhirnya kami lanjut bedah lagu sambil ngopi.

Dilanjut lagu slanjutnya Talking To The Moon. Seperti biasa yang jadi acuan pertanyaan itu Rantang, karena cuman Rantang yang paling intelek kalo masalah ini.

Setelah lagu diputar Yuning bertanya seperti biasa dan Rantang menjawab “jadi talking to the moon itu si orangnya karena ga ada yang nganggep dia jadi kaya orang gila teh, dia ngomong sama bulan untuk mencurahkan hatinya”.

Mendengar jawaban Rantang serasa inget lagunya Doel Sumbang yang Kalau Bulan Bisa Ngomong. Pasti kalo di duelin nyambung tuh. Pas pembahasan lagu gak ada yang gak ngakak mendengar semua celotehan Rantang yang kaya ngelawak. Malam sudah menunjukan pukul 01.00 akhirnya smua beranjak istirahat,tinggal saya sama Rantang yang masih ngobrol sambil rokokan. Disini kekonyolan belum berakhir, dengan seruputan khas Rantang kopi di tenggak sedikit demi sedikit sampai habis dan tiba di gelas yang ke 2. Saya inget banget itu gelas warna pink yang bekas dipakai Cuni ngocok telor dan belum dicuci.

Masih dengan seruputan khas Rantang, dia minum kopi yang di gelas pink. Sruuupuuut kopi d minum Rantang,tiba-tiba dia ngomong Bang Rang kok kopinya rasa telor yah ?”

Saya jawab Ah yang bener maneh, perasaan kali. Coba minum lagi yang bener”.

Tanpa bertanya2 lagi Rantang langsung minum lagi. Srupuuuut kopi diminum lumayan banyak dia minum dan dia muntahin itu kopi sambil ngomong Anying Bang Rang nipu aing, ini mah gelasnya bekas ngocok telur goblooog”.

Disitu saya gak bisa ngapa-ngapain, saya cuman bisa ketawa ngakak sampe puas liat kelakuan Rantang. Karena merasa sudah lelah saya dan Rantang mulai istirahat untuk melanjutkan perjalan di esok hari.

Pagi telah tiba, pagi itu Tablo orang yang pertama bangun dan ngebangunin kami. Tapi saya gak hirauin itu, karena sengaja biar Tablo masak sendiri. Dengan segala cara Tablo ngebangunin tapi saya tetep pura-pura masih ngantuk. Akhirnya Tablo ngalah, dia masak sendirian. Dia masak nasi, telor dan kornet. Awal cerita saya percaya sama Tablo buat masak karena sambil didampingi Cuni yang lagi masak. Tapi feeling saya salah waktu itu, Tablo masak nasi hampir kaya bubur. Tapi saya maklumin, karena kalo ga gitu bukan Tablo. Oh iya guys lupa, semalam waktu saya yang masak Tablo mengeluarkan lagi kebloonannya. Beras yang saya masak ditumpahin Tablo, tapi gapapa, karena kalo ga gitu BUKAN TABLO.

Pukul 10.00 kami baru mulai jalan menuju puncak Rakutak. Masih dengan track yang begitu sombong kami sampai di puncak 2 hampir 1 jam. Di puncak 2 kami selfie, foto-foto dan lanjut ke puncak utama. Karena diburu waktu kami tidak berlama-lama di puncak. Kami bergegas melanjutkan perjalanan untuk sampai di Danau Ciharus. Untuk sampai ke Ciharus kurang lebih kami jalan 4 jam. Dengan track yang ga begitu berat tapi serasa Diklat Part II, karena masih hutan belantara dan perlu ngerangkak buat jalan. Selain itu untuk tiba di Danau Ciharus kami harus susur sungai, komplit lah pokonya.

Bentang Buntara Mantap! (Kopral, Tablo, Rantang)

Bentang Buntara Mantap! (Kopral, Tablo, Rantang)

Saat kami susur sungai Rantang mulai mengeluarkan kekonyolanya. Semua orang sangka kalau dia jatuh dan lemas. Tapi dengan kurang ajarnya Rantang ternyata tiduran diatas batu seperti putri duyung sambil bilang sama Yuning “aduh enak banget teh tidur disini”. Memang Rantang ini terbaik kalo untuk ngelawak hahaha.

Pukul 16.00 kami nyampe di Ciharus dan disambut hangat oleh Bapak warung yang baik yang telah minjemin sendok dan para bikers yang pake trail. Di Ciharus kami masak, ngopi dan rokokan. Wets tapi jangan lupa, disini pun kekonyolan Rantang belum berakhir, Rantang membeli sebungkus roko D****m Coklat sangat mahal. Dia beli seharga 16 ribu, dan dia nanya sama saya Bang Rang di depok jarum coklat sabaraha ?”.

Saya sengaja liatin Rantang karena di akte saya asli orang Bandung tulen sambil saya jawab “Depok ????”.

Rantang: “iya depok”.

Saya jawab lagi “aing pan orang ciwidey bukan orang depok”

Rantang: “aeh ya lupa,aing perasaan sama temen orang depok”.

Disitu cuman ada saya Rantang dan Yuning. Saya dan Yuning tertawa terbahak-bahak melihat Rantang. Sore itu di Ciharus berkabut sampai kami bikin kalimat Halimun Muhun Jek”. Kalimat itu diadopsi dari halimun di Ciharus yang mengahangatkan suasana kami selama perjalanan, kata muhun diambil dari Mas Ocol dan Cuni yang kalo apa-apa selalu bilang muhun dan kata Jek diambil dari penggalan nama Rantang alias Jaka yang tak hentinya ngehibur kami.

Di Ciharus awalnya kami mau ngecamp, karena melihat waktu semakin sore dan kami sudah kelelahan sebab kami terlambat tiba disana, sedikit melebihi dari jadwal yang sudah ditargetkan. Tapi itu urung dilakukan sebab Fika dan Rantang udah absen kuliah 3x. Dan kami pun memutusan untuk pulang, pukul 19.00 kami jalan dari Ciharus menuju ke Kamojang mengikuti jalur trail. Kondisi kami semua sudah mulai lelah. Mas Ocol sang master GH pun mengibarkan bendera setengah tiang, Tablo yang tadinya centil menjadi pendiam. Malam itu dari PLTU menuju perkampungan kami melewati pematang sawah,dan seperti biasa ditengah kelelahan kami dikejutkan dengan tingkah Rantang kembali, dia kecebur masuk sungai kecil dan berteriak “Teh Cuniiiiii……”.

Entah faktor ngantuk atau apapun yang jelas saya suka gaya Rantang yang setengah ngambek sama Cuni.  Rantang masuk sungai kecil diantara pematang sawah yang lumayan dalam, melebihi perut jaka sedikit. Dengan kesalnya Rantang ngomong  “Gak bilang ada lobang, aing jadi masuk ke lubang. Parah Teh Cuni mah”.

Cuni: “kan aing udah bilang satu-satu, aing dulu baru maneh.”

Hahaha entah harus bagaimana melihat Rantang kalo sudah seperti itu, kami hanya bisa tertawa terbahak-bahak.

Pukul 23.30 kami tiba di perkampungan tempat menunggu angkot. Tapi malam sudah sangat larut, kami sudah pasrah buat nginap di warung kalau memang gak dapat angkot. Tapi keadaan berkata lain, memang kalo rejeki anak soleh gak kemana. Ini pasti faktor bawa Mas Ocol yang slalu istiqomah dalam menjalani hidupnya. Searah dengan tujuan kami pulang ada mobil pickup yang jalan dan saya langsung cegat itu mobil buat nanya tujuan. Alhamdulillah, mobil yang saya tanya tujuannya ke Bale Endah. Searah dengan kami pulang. Tanpa basa basi akhirnya saya minta ijin buat numpang sampai alun-alun Ciparay. Tiba di ciparay jam 01.00 awalnya saya minta uang sama Yuning buat ngasih bensin. Tapi Bapak itu baik hati, bapaknya ngasih tumpangan gratis sama kami. Sampai di Ciparay saya, Cuni, Ocol ngambil motor ke basecamp dan yang lainya nunggu di Ciparay. Lalu kami melanjutkan perjalanan pulang mengendarai motor dan kami tiba di kampus tercinta pukul 03.30.

Itu sepenggal cerita dari kami Bentang Buntara dan para BPH PERIMATRIK yang ikut mabim GH. Perjalanan selama mabim GH buat saya pribadi sangat berkesan. Karena saya sendiri amat sangat suka sama GH, yang mana kalau kata DEWA mah “tempat mengasah pribadi dan mengukir cinta”.

1 filosofi yang saya anut dari GH “kami akan naik tinggi tanpa menjatuhkan oranglain”.

Dan pribahasa dalam basa sunda pun bilang  “di didik di gunung sangkan teu adigung,dilatih di leuweung ngameh teu malaweung”.  Dicekapkeun wae sakitu ti simkuring perkawis mabim GH.

MABIM-GH1

Dari kiri ke kanan: Saya, Rantang, Tablo, Yuning, Mas Ocol, Fika dan Cuni. Semoga suatu saat kita merindu dengan pose ini, teringat kekonyolan selama mabim GH.