Bromo Bersama Kenangannya

Kawah Bromo

Kawah Bromo

“Dapatkah engkau membuatkan lautan ditengah-tengah gunung dalam satu malam?”, kata Roro Anteng kepada Pelamar Sakti yang hendak meminangnya.

Kecantikan Roro Anteng memang sudah tersebar ke segala penjuru kala itu, hingga membuat banyak lelaki ingin meminangnya. Dari sekian banyak yang datang untuk mempersuntingnya tidak satupun yang menarik hati Roro Anteng sebab ia sudah terpikat oleh Joko Seger. Hingga suatu hari seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat datang untuk melamar dirinya. Karena Anteng tidak ingin melukai hati sang pelamar, maka ia meminta untuk dibuatkan lautan dalam satu malam. Pelamar Sakti pun menyanggupi tantangan dari Roro Anteng. Dengan bantuan batok kelapa atau sebuah tempurung membuat pekerjaan Pelamar Sakti hampir selesai sebelum matahari terbit. Hal ini membuat Roro Anteng gelisah dan mencari cara untuk menggagalkan hal tersebut karena ia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak ia cintai. Roro Anteng pun mulai menumbuk padi, berusaha membangunkan ayam agar berkokok. Pelamar Sakti sangat kaget dan marah serta kesal karena fajar datang sebelum waktunya. Emosi yang mendalam membuat ia melemparkan Batok penggeruk jatuh dengan posisi tertungkup sehingga membentuk sebuah gunung di samping Gunung Bromo, dan masyarakat menyebutnya sebagai Gunung Batok.

Dengan kegagalan dari Bajak Sakti maka hubungan Roro Anteng dengan Joko Seger berlanjut hingga akhirnya mereka menikah. Mereka hidup bahagia, membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger. Tengger sendiri diambil dari akhiran nama Roro Anteng dan Joko Seger yaitu “Teng” dan “Ger”. Mereka terkenal dengan kebaikan dan kemurahan hati mereka. Namun setelah sekian lama menikah mereka belum dikaruniani keturunan yang membuat mereka sedikit risau. Akhirnya mereka pun pergi ke puncak Bromo untuk bersemedi demi mendapatkan keturunan. Ketika mereka bersemedi tiba-tiba ada suara gaib yang berkata:

 “Kamu akan memiliki keturunan dengan syarat kamu harus menyerahkan anak bungsumu ke kawah Bromo”.

Roro Anteng dan Joko segerpun menyanggupinya. Hinga mereka memiliki 25 anak, Mereka tidak rela untuk menyumbangkan anak bungsu mereka dan hal itu membuat kemarahan pada Dewa, sebab mereka ingkar janji. Tiba-tiba langit menjadi gelap dan Gunung Bromo menyemburkan api yang melenyapkan Kusuma—putri bungsu roro Anteng dan Joko Seger. Bersamaan dengan itu muncul suara gaib:

“Saudara-saudara yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dang Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji hasil bumi di puncak gunung Bromo.

Hal inilah yang sampai sekarang diperingati oleh suku Tengger di Poten, lautan pasir di Gunung Bromo. Hingga saat ini pura Poten masih ada dan dipakai untuk sembahyang oleh para pengunjung dan suku Tengger—memperingati upacara keagamaan. Keindahan Gunung Bromo termasyhur di Indonesia maupun mancanegara. Hal itu tidak bisa saya tepis, saya setuju sepertinya. Keindahan itu saya jumpai pada akhir pekan kemarin, secara sengaja saya berkesempatan untuk mengunjungi Bromo dan berkesempatan pula bertemu beberapa turis dari Singapura, Malaysia, Korea, Thailand dan sebagian lagi dari Eropa.

Pada Jumat malam sekitar jam 10, kami berangkat dari Pare (tempat saya saat ini mengisi liburan kuliah dan menambah sedikit pengetahuan saya). Saya berangkat menggunakan ELF bersama anak-anak baru yang saya temui disini dan kamipun menjalin pertemanan. Dalam perjalanan tidak banyak yang bisa dinikmati karena memang kami berangkat malam, perjalanan malam kali ini ditengarai untuk mengejar sunrise yang saya lihat dibeberapa photo di Instagram yang sekiranya cukup bagus. Perjalanan ini juga dilakukan untuk mendekatkan kami satu sama lain para penghuni asrama tempat kami tinggal. Setelah 5 jam perjalanan kami pun tiba di tempat penyewaan Jeep yang biasanya digunakan untuk mengelilingi area wisata di Gunung Bromo. Karena kami telah melakukan pemesanan sebelumnya dari pihak travel yang kami gunakan, maka kami tinggal menaiki Jeep yang sudah siap mengantarkan kami. Karena banyaknya orang yang berkunjung ke Bromo membuat tempat ini sangat padat dan saling berebutan pada saat menaiki Jeep. Hal ini membuat saya terpisah dari kawanan kelompok saya yang katanya udah deket banget, udah tau luar dalamya padahal belum seminggu kenal juga. Didalam Jeep bersama orang-orang yang tidak saya kenal hanya kantuk yang menemani, dan tiba-tiba seseorang muntah kejadian itu mebangunkan saya, jalan yang berkelok-kelok membuat goncangan didalam perutnya, barangkali isi perut bergejolak berharap keluar untuk mencari kenyamanan.

Pukul 04.00 pagi kami tiba di sunrise point Gunung Bromo. Banyak wisatawan memadati tempat ini, dan udara dingin sudah mulai menusuk tulang yang membuat beberapa teman saya harus menggunakan ojek untuk sampai ketempat ini karena Jeep yang mereka gunakan berada jauh dibawah. Ketika menunggu matahari untuk menampakkan dirinya secara perlahan, sebagian dari tim kami melakukan sholat di Mushola di dekat sunrise point, sebab “kemanapun kita pergi jangan pernah melupakan kewajiban kita”.

keceriaan di pasir berbisik

keceriaan di pasir berbisik

Dengan malu-malu sang mentari mulai menampakkan dirinya, para wisatawan sudah bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan pemandangan yang perlahan akan tercipta, begitupula dengan kami. Di tempat inilah mulai terjadi sedikit cerita manis diantara teman saya yang mendadak terlihat romantis antara inisial I dan K. berawal dari sekedar foto biasa hingga beberapa foto yang mengabadikan kedekatan mereka. Hal ini juga berlanjut ketika kami mengunjungi Pasir Berbisik, kedekatan ini terus berlanjut. Awalanya hanya candaan yang kita buat tapi ada sedikit ketertarikan diantara mereka.  Hal ini mulai terlihat ketika mereka selalu berjalan berdua, mengambil foto berdua dan duduk saling berdekatan. Hingga pada saat kita menuju kawah bromo yang harus berjalan cukup jauh dan melewati anak tangga yang cukup banyak membuat mereka semakin dekat, ketika si cewek tidak kuat lagi menaiki anak tangga si cowok dengan setia menunggu sejenak dan menuruskan kaki yang lelah itu. Pemandangan cukup manis terlihat beberapa orang yang lalu lalang. Hingga ketika tiba di puncak mereka berdua tidak lupa mengambil beberapa foto yang menunjukkan kedekatan mereka. Hingga dalam perjalananan pulang mereka tetap saling berdampingan dan saling melemparkan candaan yang membuat mereka semakin dekat. Kedekatan mereka berlanjut sampai sekarang setelah beberapa hari dari Bromo, dan mungkin ada ujung dari kedekatan mereka.

Setelah mengunjungi beberapa tempat di Bromo, dengan sedikit terpaksa kami meninggalkan tempat ini yang memiliki banyak cerita didalamya dan meninggalkan banyak kenangan diantara kami semua. Ketika kembali ke Pare hanya kantuk yang menemani hingga tidak sadar kami telah sampai di depan asrama.