MT SLAMET: TENTANG PUNCAK DAN NIKMAT YANG PERLU DISYUKURI

“Awas batu!!!”, teriak salah satu pendaki yang berada beberapa meter di atas saya. Hari itu kami masih diberikan keselamatan, kebetulan sekali saat perjalanan menuju puncak tiba-tiba batu besar jatuh, untungnya batu tersebut tidak di jalur pandakian yang sedang ramai orang, dan alhamdulillah tidak melukai siapapun yang ada disana, saya yang waktu itu panik cuman bisa berdiam dan ngelus dodo.

“Cun, tau gitu tadi videoin ya, aku pura-pura kaya Herjunot Ali gitu, biar mirip-mirip 5 cm”, mas Afin bergurau, kata-katanya sungguh mencairkan suasana yang sempat tegang, dan saya pun cuman ketawa.

slamet2

Perjalanan menuju puncak Mt. Slamet

Untuk menuju puncak salah satu gunung tertinggi di pulau jawa ini memang harus dilalui dengan melewati batuan, kerikil dan pasir. Belum lagi waktu itu angin puncak benar-benar kencang, sehingga bisa saja badan kita oleng sesekali selama perjalanan. Apalagi saya yang berat badannya tidak sampai 50 kg, saya sangat berhati-hati dan selalu mencari gandengan pegangan selama perjalanan.

Perjalanan menuju puncak ini kita lalui setelah 2 malam nge camp di pos 5, 2 malam itu pula kami merasakan dingin tanpa ditemani teh hangat segelaspun, tak ada teh kane buatan mas Ocol waktu itu, kami hanya melewati dingin dengan bercangkir-cangkir kopi. Entah berapa gelas kopi yang suda diminum mas Rangga dan mas Ocol, hingga mereka tidak bisa tidur dan malah asyik curhat. Selama di camp tak lupa Yuning mengeluarkan jurus andalannya, bermain tebak-tebakan, hingga saat ini saya masih nggak ngeh juga dengan permainan cekrek-cekrek nya itu.

Setelah batal ke puncak di hari pertama karena kami memilih turun sebab melihat cuaca yang mendung, kami pun bertekad untuk ke puncak di hari kedua. Sekitar jam empat pagi kami memulai perjalanan, tak lupa diawali dengan doa dan sedikit pemanasan. Di tengah perjalanan salah satu kawan kami (Amal) merasa pusing dan kurang enak badan,  syukur setelah istirahat sesekali dia sudah merasa baikan, saya rasa itu  berkat nikmat sembuh dari Tuhan melalui perantara minyak gandapura yang dibawa Amal di sakunya.

slamet3

Matahari pagi Mt. Slamet

Cuaca yang cerah waktu itu, kami bisa melihat matahari terbit dengan begitu apik, awan-awan nampak sebagai penyempurna pagi itu. Setelah beberapa jam perjalanan tibalah kami di puncak. Ternyata angin semakin kencang saja, moment yang mengharukan waktu itu  mas Afin sempat  turun air matanya, dia merasa tersentuh dan merasa bersyukur masih bisa menikmati perjalanan dan puncak yang indah.

Sungguh melankolis, tapi memang perjalanan ini perlu disyukuri, dengan nikmat sehat dan selamat yang masih kita rasakan, betapa manusia benar-benar kecil, dan ciptaanNya benar-benar megah. Dengan nikmat kesehatan dari ujung rambut hingga ujung kaki, kita bisa melangkah hingga ke puncak, dan memandang keindahan yang tak henti-hentinya dengan nikmat berupa mata yang kita miliki.

slamet1

Foto bersama dari kiri ke kanan: Afin, Yuning, Cuni, Ocol, Amal dan Kopral.

Tak lupa kami mengabadikan moment ini dengan foto bersama, semoga kelak Tuhan masih mengizinkan kami main-main ke puncak lainnya.

Terimakasih tak lupa saya sampaikan kepada mas Afin yang sudah membantu dari segala hal, terimakasih pula kepada mas Ocol, mas Rangga, Yuning dan Amal sebagai rekan seperjalanan yang mengharukan. Slamet Sudah Selesai, Sumbing Suatu Saat, Sindoro Suatu Saat, salam 3S.