Belajar menjadi relawan dari sebuah sekolah

Libur semester 3 yang gabut dan saya hanya bisa mengerjakan pekerjaan rumah, bosan betul. Tiba-tiba ketua PERIMATRIK 2015/2016 (Yuning) mengirimkan poster social and disaster rescue yang diadakan oleh Sekolah Relawan. Pada awalnya saya menganggap kegiatan tersebut berkaitan dengan single rope technique yang digambarkan melaluli posternya. Namun ternyata kegiatan tersebut merupakan pelatihan kepepimpinan yang berhubungan dengan kebencanaan, baik bencana alam maupun bencana sosial. Tak ada penyesalan atau apapun itu, meskipun apa yang saya bayangkan berbeda dengan kenyataan, justru saya bersyukur karena ada ilmu baru yang saya dapatkan dan juga bisa nambah teman baru yang ramah dan  juga seru.

artikel-4

Pemberian Materi Sebelum Pemanjatan Dimulai

Pada awalnya Sekolah Relawan melakukan seleksi, yaitu tes fisik dan tes pengetahuan. Saat tes pengetahuan saya hanya menjawab pertanyaan seputar apa yang sudah saya pelajari di PERIMATRIK seperti navigasi darat, arah mata angin, dan yang lainnya. Sedangkan tes fisik yang dilakukan adalah lari, push up, sit up, back up, dan skot jump, ditambah juga dengan pull up untuk laki-laki. Setelah menunggu selama 3 hari, saya mendapatkan sms dari salah satu komandan di social and disaster rescue yaitu komandan Monos bahwa saya lolos seleksi dan lanjut untuk mengikuti pelatihan. 1 minggu pun berlalu, akhirnya pelatihan social and disaster rescue pun tiba yang diadakan di kaki Gunung Salak, yaitu Gunung Bunder, Bogor. Pelatihan dilakukan selama 3 hari, disana diberikan materi tentang manajemen kebencanaan, yang memiliki 3 tahap yaitu pre disaster, during disaster, dan pasca disaster. Kebanyakan relawan Indonesia lebih memilih during disaster yaitu membantu saat adanya bencana dan media massa pun banyak yang memberitakan disaat bencana saja. Tetapi sebenarnya pre- dan pasca- tak kalah pentingnya untuk korban bencana alam maupun sosial, di saat pre disaster para relawan dapat melakukan seperti penyuluhan tentang pencegahan bencana alam ke sekolah-sekolah agar jika terjadi bencana alam yang datang secara tiba-tiba dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti apa yang diceritakan oleh komandan Gaw, anak-anak di Jepang membawa 2 balok kayu yang disimpan di dalam tas sekolahnya, hal tersebut dilakukan jika sewaktu-waktu ada bencana alam dan mereka tertipa oleh puing-puing bangunan mereka akan memberikan tanda dengan cara memukulkan kedua balok tersebut yang akan menimbulkan suara untuk memberi tanda kepada relawan bahwa di dalam puing masih ada korban yang masih bisa diselamatkan. Sedangkan untuk pasca bencana hal yang dapat dilakukan oleh para relawan salah satunya membersihkan rumah-rumah karena terendam banjir ataupun membangun rumah untuk korban tsunami yang membutuhkan rumah kembali untuk tempat tinggalnya.

Selain diberikan materi kebencanaan, tentu saja disaat pelatihan dilakukan juga latihan fisik dan mental seperti lari dengan medan menanjak, ataupun berendam pada malam hari,  karena seorang relawan harus dapat siap di medan seperti apapun. Tak hanya pelatihan yang berat yang dilakukan, melainkan games yang mengedukasi pun ada di dalam pelatihan ini seperti mencari kertas yang memiliki warna berbeda yang dianalogikan sebagai korban dan kami harus menyelamatkan korban-korban yang berada di berbagai titik. Saya juga belajar tentang dasar-dasar vertical rescue yang menggunakan ascender dan pulley sebagai alat utamanya serta menggunakan sistem A, Z, M untuk menarik korbannya.

artikel1

proses pemanjatan aid climbing


Di penghujung acara dilakukan upacara penutupan pelatihan ini sekaligus diberitahukannya nama angkatan pertama di social and disaster rescue Sekolah Relawan yaitu angkatan Pajajaran. Saya pun merasa senang telah menjadi bagian dari Sekolah Relawan.

Sekitar 3 minggu kemudian, saat saya telah berada di Bandung saya dihubungi kembali oleh komandan Monos dan teman saya yang bernama Henny untuk mengikuti Sekolah Panjat Tebing Merah Putih di Pelabuhan Ratu, Sukabumi untuk mengetahui lebih dalam tentang vertical rescue. Pada akhirnya saat saya sudah meminta izin kepada orangtua saya, saya bersiap-siap ke basecamp Sekolah Relawan yang berada di Depok. Saya pun berangkat untuk mengikuti sekolah dengan keempat teman saya.

Saya mengikuti Sekolah Panjat Tebing selama 3 hari untuk belajar bagaimana prosedur pemanjatan yang baik dan benar. Banyak ilmu baru yang saya dapat seperti diperkenalkan alat-alat panjat tebing seperti fiffy hook, ATC, alat penambat, dan yang lainnya. Selain itu saya juga belajar jenis-jenis pemanjatan seperti Aid Climbing, Free Climbing, Himalayan Tactic, dan Alphine Tactic. Adapun toping out of the anchor, ascender/descender juga ada dalam materi vertical rescue.

Selain belajar tentang materi panjat tebing, saya juga berkenalan dengan orang-orang baru yang ramah, yang diantaranya merupakan mapala yaitu Torak Rimba (Unpas), Akampa (Majalengka), dan Pantera (Fisip Unpad). Pada upacara penutupan, saya bersama teman-teman diresmikan telah selesai mengikuti Sekolah Panjat Tebing di Ciletuh, Pelabuhan Ratu, Sukabumi angkatan ke 74.

Sungguh pengalaman yang luar biasa.