Kertasku, Kertasmu dan Hutan Kita

Di dalam masyarakat modern seperti saat ini, penggunaan kertas begitu lazim digunakan, seperti tak ada hidup tanpa penggunaan kertas. Kertas secara kita sadari, sering digunakan dalam bentuk apapun, seperti; buku, koran, kertas corat-coret, brosur, pembungkus gorengan atau makanan, bahkan dengan teknologi dan bahan kimia bisa menjadi wadah air atau minuman. Akan tetapi, bentuk-bentuk seperti itu begitu menunjang kegiatan dan hasrat masyarakat dalam menjalani hidupnya sehari-hari.

Andai kata, buku terbuat dari batu, selayaknya zaman batu yang belum menemukan kertas. Media perekam tulisan kita adalah batu. Bayangkan bagaimana kita sehari-hari ketika berangkat sekolah atau ngampus, di dalam tas kita berisikan batu seberat 5 kilogram, pasti tubuh kita bak seorang binaragawan/wati. Bagaimana bentuk tubuh Hulk yang awal mulanya hanya manusia biasa-bukan atlet binaraga-kemudian berubah, pasti lebih besar dan mengerikan lagi.

Dosen saya pernah menyampaikan tentang mudahnya berbuat baik,

“jika kamu ingin berbuat kebaikan, mudah saja, kamu terima atau ambil brosur (kredit uang, pegadaian, koperasi, promosi produk/jasa) yang ditawarkan oleh seseorang. It’s easy, right?”.

Akan tetapi tidak semudah itu, jika memikirkan tentang bagaimana brosur tersebut diproduksi dan seberapa penting brosur tersebut untuk kita. Jika tidak membutuhkannya, pastinya kita akan segera membuangnya di jalan tempat sampah. Hal semacam ini merupakan sebuah dilema bagi kita yang ingin masuk Surga-Nya. Di satu sisi, ingin menjadi orang yang mulia, tetapi di satu sisi ingin menjadi penyelamat dunia.

Bentuk kertas yang paling banyak digunakan adalah tisu. Penggunaan tisu di Indonesia sendiri mencapai 100 juta gulung tisu per hari dan penggunaan tisu di seluruh dunia hampir 27 ribu pohon per hari. Akan tetapi, tisu juga sangat berguna. Contohnya, ketika kita sedang terkena flu, tisu sangat berguna untuk menyimpan lendir yang keluar dari hidung kita. Bayangkan saja jika tidak ada tisu, maka kita pasti akan keluar masuk kamar mandi untuk sekedar membuang lendir yang mengganggu dan itu membuat tubuh kita menjadi lemas dan akibatnya sistem imun tubuh kita tidak bekerja dengan baik untuk melawan penyakit flu tersebut. Kemudian, ketika minuman kita tumpah ke baju, pasti kita buru-buru mencari tisu.

Lagi-lagi menjadi sebuah dilema. Sebab budaya menggunakan sapu tangan sudah tergantikan dengan sebuah tisu.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan bahan dasar kertas sangatlah massive. Tak heran jika laju pengurangan hutan atau deforestasi yang merupakan bahan dasar kertas juga sangat tinggi. Permintaan pabrik-parik kertas untuk memenuhi permintaan pasar pun harus terpenuhi. Alih-alih perusahaan membuat CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat, yang ada malah membabat habis hutan dan alam di sekitarnya. Seperti yang dilansir oleh jikalahari.or.id pada tahun 2010, PT Riau Andalan Pulp & Paper (PT RAPP) yang wilayah operasinya berada di Riau dan Sumatera Utara adalah salah satu perusahaan di Indonesia yang melakukan pembabatan hutan kayu alam. Mereka juga mempunyai kerangka sistematis penghancuran hutan alam di Sumatera yang berdampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup, dan juga berakibat konflik sosial dengan masyarakat, terutama petani dan masyarakat adat.

pb200671

Kondisi salah satu hutan di daerah Bandung

Luas hutan indonesia per tahun 2015 adalah 162 juta hektar, dan sebanyak 3,2 juta kayu per tahun diambil dari hutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kertas.

Sedangkan perkiraan bahan baku untuk produksi kertas, setiap 15 rim kertas ukuran A4 sama dengan 1 pohon, setiap 7000 eksemplar koran sama dengan 10-17 pohon hutan, dan setiap 2 kotak tisu (isi 20 lembar) sama dengan 1 pohon. Usia rata-rata pohon siap produksi adalah 5-6 tahun.

Istilah paperless atau mengurangi penggunaan kertas, pasti sudah sering kita dengar. Kita (mungkin) tidak akan bisa tidak melibatkan kertas dalam menjalani hidup sehari-hari. Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) adalah salah satu konsep untuk penggunaan kertas dengan bijak. Reduce adalah mengurangi penggunaan, Reuse adalah penggunaan kembali, kertas yang telah digunakan atau tidak hanya sekali pakai. Recycle adalah daur ulang kertas yang telah terpakai.

Alternatif mengurangi keterlibatan kertas dalam menjalani hidup ada banyak hal. Misalkan.

  1. Pengganti tisu ada sapu tangan, handuk, kain lap, dan kanebo.
  2. Pengganti bungkus nasi yaitu rantang atau kotak nasi.
  3. Mencetak tugas yang mulanya hanya memakai satu sisi, bisa menggunakan kedua sisi atau bolak-balik.
  4. Memaksimalkan kegunaan teknologi, misalkan untuk pengumpulan tugas, menggambar, penyebar luasan informasi, pemasaran produk secara online tidak lagi menyebarkan brosur.

Dan berbagai hal lainnya yang membantu mengurangi penggunaan bahan dasar kertas. Jika permintaan kertas berkurang, maka bukan hal yang tidak mungkin perusahaan bubur kertas dan kertas akan mengurangi jumlah produksinya dan punya dampak positif bagi hutan (kita).

Semakin banyak dan sering kita menggunakan kertas, maka kita patut ditunjuk sebagai aktor/aktris dibalik pembabatan hutan yang secara tidak langsung  berdampak terhadap pengurangan populasi fauna yang ada di dalam hutan tersebut.

mm

Sumber: kaskus.co.id

Sedikit lirik nyanyian ciptaan Gombloh untuk alam ini.

Mengapa Tanahku Rawan Ini

Bukit Bukit Telanjang Berdiri

Pohon Dan Rumput Enggan Bersemi Kembali

Burung-burung Pun Malu Bernyanyi

Kuingin Bukitku Hijau Kembali

Semenung Pun Tak Sabar Menanti

Doa Kan Kuucapkan Hari Demi Hari

Kapankah Hati Ini Kapan Lagi

Semoga belum terlambat, selamat Hari Pohon, 21 November 2016. Lestari!!!