Mabim Konservasi: Hidroponik dengan Sistem Kultur Air

Divisi konservasi adalah divisi yang paling muda di  PERIMATRIK. Divisi ini mengajarkan untuk setiap anggotanya melindungi, menjaga, dan merawat sesama makhluk hidup. Konservasi sendiri seringkali dikaitkan dengan masalah lingkungan, seperti konservasi sumber daya alam, konservasi hutan, konservasi energi, konservasi tanah dan lain sebagainya. Hal ini karena alam sebagai tempat kita hidup dan mencari penghidupan.

Banyaknya lahan yang dimanfaatkan untuk pembangunan kota mengakibatkan menipisnya lahan untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Hal tersebut membuat manusia mencari alternatif lain untuk tetap bercocok tanam. Cara yang sering digunakan ialah menggunakan system hidroponik (hydroponic). Hidroponik adalah sistem budidaya tanaman dengan media air dan media lainnya yang mendukung kinerja sistem hidroponik. Pada Masa Bimbingan (mabim) konservasi Anggota Muda PERIMATRIK kali ini membuat hidroponik dengan sistem kultur air (water culture system). Sistem ini adalah sebuah sistem hidroponik yang dibuat dengan cukup sederhana, meskipun demikian cara pembuatannya tetap dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan yang baik serta imajinasi untuk membangun sistem kultur air tersebut. Bahan-Bahan yang digunakan untuk membuatnya juga mudah untuk didapatkan. Berikut alat dan bahan yang dibutuhkan ketika membuat hidropinik dengan sistem kultur air : rock wall/lidi, nutrisi tanaman (Nutrisi A&B), bibit tanaman, styrofoam, pompa udara akuarium, selang udara, keranjang/wadah penampung air, gunting, dan kawat.

Lalu, bagaimana cara pembuatannya ? Yang pertama, siapkan alat dan bahan yang sudah tertera diatas, selanjutnya isi keranjang/wadah penampung air dengan nutrisi A & B yang telah dilarutkan dan dicampur menjadi satu ke dalam wadah. Selanjutnya siapkan styrofoam untuk dilubangi dengan jarak yang telah ditentukan jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh, kami melubanginya dengan menggunakan media kawat yang dibentuk lingkaran kemudian dibakar dibagian yang telah dibentuk lingkaran dan ditempelkan pada styrofoam. Setelah styrofoam selesai dibentuk lanjutkan dengan meletakkan bibit pada lubang-lubang styrofoam yang telah tersedia. Kali ini kami menggunakan bawang merah sebagai bibitnya, kami kupas bawang merah tersebut terlebih dahulu lalu potong di bagian atas pada buah agar tunas yang nantinya bawang bisa tumbuh tanpa hambatan. Lalu letakkan bawang merah dilubang tersebut, jangan lupa mengganjal bawang tersebut terlebih dahulu dengan rock wall/lidi agar bawang tidak jatuh seluruhnya kedalam air nutrisi. Akar menggantung kebawah dari keranjang di mana tanaman berada, dan menggantung langsung ke larutan nutrisi di mana tanaman tersebut terendam. Usahakan akar tetap terendam, agar akar tidak mati maka kita gunakan pompa udara akuarium guna memberikan oksigen pada tanaman tersebut. Gelembung udara yang naik akan membuat kontak langsung dengan akar dan menjadi sangat efektif untuk tanaman.

penampakan hidroponik dengan sistem kultur air yang dibuat oleh Anggota Muda Kelana Pratisara

penampakan hidroponik dengan sistem kultur air yang dibuat oleh Anggota Muda PERIMATRIK Kelana Pratisara

Selesainya pembuatan hidroponik dengan sistem kultur air ini bukan berarti selesainya mabim konservasi. Para Anggota Muda PERIMATRIK harus tetap merawat tanaman-tanaman tersebut agar dapat menghasilkan tanaman yang baik.

Sebab lebih baik merawat, daripada harus menyiram tanaman mati.

Harapan untuk kedepannya, ilmu yang didapatkan dapat diturunkan kegenerasi selanjutnya serta lebih ditingkatkan lagi. Sekian dari kami, semoga bermanfaat.