Perjalanan, kemudi dan keluarga

terlihat kompak bukan, sungguh ini sebenernya direncanakan, hingga ada yang beli kaos dadakan.

Wajah-wajah ceria dari kiri ke kanan : Bella, Taufiq, Desri, Bayu, Yuni, Faishal, Kiki.

 

It will always be my favorite moment, driving with them!

Tidak mudah menjalani hidup sebagai seorang pekerja yang harus terus berkutat dengan rutinitas kerja hariannya. Untuk seorang penggiat yang jiwanya berasal, tumbuh dan terus beresonansi dengan alam, membuat saya memerlukan asupan nutrisi berupa perjalanan dan eksplorasi. Kurangnya asupan nutrisi tersebut dapat menyebabkan kegalauan dan kerinduan yang tidak dapat dijelaskan hingga dapat berujung pada stress akut. Stress tersebut dapat menurunkan semangat dalam bekerja sehingga produktifitas pun menurun dan secara tidak langsung berpengaruh pada masa depan yang mungkin akan indah (mungkin ya bro, mungkin).

Rasa bosan terhadap rutinitas mulai melanda, saya memutuskan untuk mengadakan perjalanan dengan tujuan yang masih menjadi tanda tanya. Saat itu adalah mabim rock climbing AM Perimatrik angkatan Kelana Partisara dan disanalah tercetus keinginan untuk melakukan perjalanan ke pantai yang sudah lama tidak dilakukan. Dengan diiyakan oleh beberapa orang maka kami berniat untuk melakukan perjalanan besoknya pada hari libur waisak, selasa tanggal 28 Maret 2017.

Setelah melakukan aktivitas kerja pada hari senin, akhirnya saat yang disepakati pun tiba. Dengan semangat membara, saya melajukan motor dengan kecepatan yang tidak biasa. Teringat pada saat kerja terdapat pesan dari saudara Ocol Nuruz Zuhri yang mengabarkan bahwa perjalanan positif dapat terlaksana. Hal tersebut memacu semangat saya untuk berkendara hingga tiba di Sekretariat Perimatrik. Jam menunjukkan pukul 20.17 WIB, alangkah terkejutnya saya melihat anak-anak yang belum melakukan persiapan sama sekali, bahkan mengajak untuk makan diluar sebelum berangkat. Ini siapa yang stress sebenarnya? Saya atau mereka? Fix, mereka jauh lebih stress dari pada saya. Akhirnya kamipun makan diluar sembari mencari lokasi yang akan diset menjadi tujuan dan mencari kendaraan transportasi. Saat itu jam menunjukkan pukul 21.21 WIB dan akhirnya kami mendapatkan mobil yang akan kami sewa (thx to penyewaan mobil yang masih melayani pelanggan  diluar jam kerja mereka).

“Jadi”, bisikku dalam hati yang sempat kecewa karena adanya kemungkinan perjalanan tersebut batal dilakukan mengingat persiapan kami yang sangat minim waktu.

Kamipun bersiap dengan membawa peralatan yang diperlukan berupa matras, flysheet dan alat masak. Disaat melakukan persiapan itulah ada beberapa orang yang memutuskan tidak jadi ikut. Tidak jadi ikut? Huh, sebenarnya tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah yang tidak ikut adalah supir utama yang sudah mencalonkan diri sebelumnya. Dan pada saat itu yang bisa menyetir cuma kami berdua, yang berarti?

“Hahaha, no problemo,” ucapan yang keluar tapi dalam hati ingin menangis sekencang-kencangnya. *lebay

Pukul 23.25 WIB persiapan selesai, semua penumpang naik ke mobil dan perjalanan pun dimulai. Setiap kali nyupirin anak Perimatrik, selalu ada bertumpuk rasa kangen yang susah untuk dijelaskan mengingat banyak sekali perjalanan yang telah kami lakukan. Ntah itu sekedar jalan-jalan ke kota dengan mobil bokapnya damar, sweet monalisa dengan mobilnya ipul, perjalanan survey kegiatan triple S tiga gunung, tiga hari, tiga wanita dan banyak kegiatan lainnya. Oleh karena itulah, menyetir menjadi  refreshing untuk saya karena disaat menyetirlah saya bisa  mengingat aroma kenangan yang saya rasakan dengan mereka. Selain itu, saya dapat mendengar canda tawa dan hal konyol yang mereka lakukan diposisi kemudi. It will always be my favorite moment, driving with them.

Seperti biasa, perjalanan dihiasi dengan canda tawa yang tidak berlangsung lama. Setelah melakukan belanja logistik, terdengar bunyi seperti dengkuran di jok belakang.

“Semprul!”  hati berbisik dengan mulut yang tersenyum sambil menenggak minuman berenergi.

Sungguh merupakan malam yang panjang, seorang diri menyetir karena nyonya dibangku sebelah supir juga tertidur. Kondisi saat itu sangat sunyi dengan tidak adanya kabel aux dan sinyal radio yang timbul tenggelam, sempurnalah semuanya.

Menunggu sunrise, lokasi pantai Batu Hiu.

Menunggu sunrise, lokasi pantai Batu Hiu.

Detik, menit hingga jam pun berlalu. Kami tiba ditempat yang telah disepakati sebelumnya yaitu Pantai Batu Hiu pada pukul 04.00 WIB. Tiba dengan cepat dikarenakan pedal gas yang terus diinjak dan lalu lintas relatif sepi. Disana kami tidak membayar sepeser pun untuk masuk ke lokasi dikarenakan belum adanya petugas penjaga karcis masuk saat dini hari. Sekedar informasi, dini hari merupakan jam terbang nyamuk sehingga saya tidak dapat tidur disana. Kami menunggu sun rise sambil memasak spaghetti, berganti baju dengan dress code yang telah disepakati yaitu baju putih dan berfoto-foto.Setelah selesai berfoto di Pantai Batu Hiu, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Disana kami berimprovisasi dengan mendiskusikan tempat selanjutnya yang akan kami kunjungi. Ternyata mayoritas penumpang belum pernah melakukan pariwisata ke Green Canyon sehingga kami pun mampir dan menanyakan harga tripnya. Setelah sempat bernegosiasi dengan bahasa sunda yang cuma “muhun-muhun” saja (*maaf bel), kami pun memutuskan untuk membatalkan pariwisata ke Green Canyon karena tidak sesuai dengan kantong mahasiswa. Dasar kantong mahasiswa, hahahaha *lihat dompet sambil mengheningkan cipta.

Karena keterbatasan waktu, akhirnya kami memutuskan untuk ke pantai pribadi kami (*ciaelah) di Pantai Batu Karas. Pantai Batu Karas sendiri merupakan pantai yang berkesan karena saat disana  ada senior Perimatrik yang sempat melakukan PDKT. Ga usah diceritain ya guys, karena panjang dan ujungnya ga jadi.

Disana kami menuju ke suatu tempat yang dulu belum bernama dan sekarang menjadi objek wisata yang bernama Batu Nunggul. FYI, untuk memasuki daerah ini, kalian diharuskan untuk membayar uang sebesar Rp 5.000,00 guna memberikan upah kepada petugas yang membersihkan daerah itu. Segala sesuatunya belum berubah, kecuali kami menemukan orang yang menebang pepohonan di daerah tersebut. Entah apa rencana mereka, tapi saya yakin dalam beberapa tahun ke depan tempat tersebut tidak akan lagi sama.

Muka semak belukar, hati taman berbunga. -unknown #bukaniklanwakdoyok

Muka semak belukar, hati taman berbunga. -unknown #bukaniklanwakdoyok

Berfoto, berenang, dan mengubur diri dengan pasir merupakan hal-hal lazim yang dilakukan dipantai dan kami juga melakukan hal-hal tersebut. Hal yang spesial adalah pantai tersebut seperti tidak pernah ditemukan dan kami adalah pemilik tunggalnya, benar-benar tidak ada orang lain selain kami. Tidak jelas apa yang menjadi pembicaraan kami kala itu, tapi yang jelas semuanya berisikan tentang kebahagiaan. Ada yang bahagia walaupun sedang sakit, ada yang bahagia walaupun baru putus dengan pacar, ada yang bahagia karena kehilangan rasa kesendirian dan ada juga yang murni bahagia. Situasi yang lumrah terjadi ketika sedang bersama dengan keluarga karena menurut saya kebahagiaan adalah ketika bersama dengan mereka apapun kondisi yang terjadi dan dialami saat itu.

Puas dengan kegembiraan dan badan yang sudah dihujani dengan cahaya matahari, kami pun beranjak, bergegas dikarenakan perjalanan pulang yang juga memakan waktu yang lama. Petualangan kami ditutup dengan mengisi tangki alami yang sering dipanggil perut.  Memang sangat spesial tempat yang kami kunjungi karena menunya yang murah dan makanannya yang enak. Spesial Sambal panggilan tempat tersebut dan puji syukur kami mengakhiri perjalanan kami dengan kondisi perut kenyang dan hati senang.

Perjalanan tersebut hanyalah satu dari banyak perjalanan yang sudah kami lakukan. Inti dari sebuah perjalanan adalah proses, proses untuk menemukan.  Pada proses itulah kita akan mengetahui dan mengenal teman perjalanan kita meskipun kita sudah mengenal mereka sebelumnya, bahkan sejak lama. Akan banyak sekali hal-hal baru yang ditemukan, termasuk mengenali sifat dan karakter mereka lebih dalam.

Bagi kami, perjalanan adalah proses untuk membentuk rasa kekeluargaan. Setelah melalui perjalanan maka kami akan saling mengenal dan akan saling berketergantungan. Mengetahui latar belakang, orientasi, ambisi, hobi, asmara, pantangan, phobia dan lain-lain yang semua saling berbeda dan akhirnya dapat menerima itu semua. Bersama, dimanapun kami berada maka akan selalu menjadi rumah. Dan rumah favorit saya adalah kemudi yang saya kendarai sambil mendengar canda tawa keluarga saya dikursi penumpang, yang selalu saya nikmati sembari tersenyum.

Tertanda :

Supir (P.VI.012.053.PR)