Menahan Diri Untuk Alam Yang Lebih Baik

Banyaknya persoalan dan pandangan negatif terhadap organisasi Pecinta Alam mempengaruhi sedikit banyaknya pandangan orang-orang saat ini, dari mulai banyaknya kejadian tersesat di hutan gunung hingga berujung kematian, ulah para oknum yang membuat alam kotor dengan sampahnya, dan yang paling membuat geleng-geleng kepala serta ujaran kebencian para netizen millennial adalah dengan swafoto di tempat ter-hitsnya.

Menurut catatan Urban Hikers Terhitung sejak juli 2013 sampai dengan Mei 2017, 83 orang telah menjadi korban hilang dan meninggal dunia saat melakukan aktifitas di alam terbuka, jika ditelusuri faktor-faktor yang menyebabkan pun beraneka ragam, dari mulai keadaan alam itu sendiri, tersesat dan lagi-lagi kurangnya perlengkapan dan logistik hingga keteledoran dan tidak mengindahkan larangan-larangan ber swafoto di tempat yang membahayakan.

Bahkan Norman Edwin yang seorang pecinta alam legendaris dan juga wartawan, pernah menuliskan analisis masalahnya tentang “Kematian Pendaki Gunung Gede Pangrango berawal dari kuranganya perlengkapan”. Dalam esai nya yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan tahun 1987 dia menuliskan banyak pendaki berpengalaman berpendapat bahwa kematian seharusnya tidak pernah terjadi dalam kasus-kasus kecelakaan atau tersesat di Gunung Gede Pangrango, bahkan para Ranger Gede Pangrango pun masih sering tersesat padahal notabene gunung tersebut adalah rumah mereka.

Di beberapa kejadian diketahui orang-orang yang tewas dalam pendakian bukanlah anggota dari perkumpulan atau kelompok pecinta alam, hal ini menjadi suatu bukti bahwa minimnya pengalaman dan modal nekat tanpa persiapan saja yang mereka gunakan. Kegiatan mendaki gunung sendiri adalah kegiatan yang memerlukan keadaan fisik yang matang, jika para atlet cabang olahraga lain selalu melakukan latihan sebelum memulai olahraganya seharusnya berlaku juga untuk olahraga mendaki gunung ini. Karena selain membutuhkan waktu yang berhari hari, energi yang dikeluarkan juga besar.

Fenomena tersebut diatas adalah salah satu persoalan yang paling banyak terlihat saat ini, selain kondisi alam yang tidak bisa ditebak, terkadang alam juga bisa menyajikan pemandangan yang indah tapi juga bisa memberikan maut kepada siapa saja yang lengah. Untuk itu sudah seyogyanya kita harus bisa mempersiapkan diri dengan baik tidak hanya dari fisik tapi juga dari pengetahuan dan teori-teori yang bisa kita terapkan di saat berkegiatan di alam dan bukan tidak mungkin selain bisa membekali diri kita juga bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak.

Saya sendiri memulai berkegiatan di alam bebas sejak duduk di bangku SMP, berawal dari kesukaan dengan organisasi Kepramukaan saat saya duduk di bangku SMP yang mengenalkan saya dengan Camping, Hiking, Mountainering, Orientering dan kegiatan alam bebas lainnya, organisasi yang saya ikuti kala itu membuat saya tidak hanya belajar teknik kepanduan namun juga pengaplikasiannya dalam alam. Kesukaan itu berlanjut sampai menjadi anggota PERIMATRIK hingga saat ini. Walaupun hobi meng-alam ini sudah lama saya tekuni, kejadian seperti tersesat atau kesasar di gunung sudah lazim dialami dan  tidak ada yang bisa menjamin keselamatan kita kalau bukan kita sendiri.

Fenomena lain yang juga menambah pandangan negative para pecinta alam adalah ‘sampah’. Kondisi yang paling memprihatinkan terdapat di gunung-gunung yang sering di daki seperti gunung Rinjani, Semeru, Ciremai, Gede Pangrango dan masih banyak gunung lainnya. Bahkan salah satu kelompok peduli lingkungan yaitu ‘Trashbag Community’ mencatat bahwa dihasilkan 2,4 ton atau lebih dari 600 kantong sampah berhasil dikumpulkan dari 15 Gunung di Indonesia tahun 2015 lalu. Miris memang, disaat semakin maraknya tren mendaki tapi tidak diimbangi dengan pengetahuan dan bekal berkegiatan dengan aman dan membawa manfaat.

Hal yang seperti inilah yang membuat kegiatan mendaki gunung mempunyai masa depan yang tidak jelas mau dibawa kemana. Pendaki bukan satu-satunya kelompok pengguna yang ingin menikmati alam terbuka, para pecinta trail running, offroad, penyuka sepeda gunung dan bahkan pecinta alam juga ada di lahan dan wadah yang sama yaitu alam terbuka. Dan yang lebih penting lagi, mereka jauh lebih terorganisir dengan baik, dengan kelompok yang sudah lebih lama terbentuk dan lebih fokus dengan melindungi hobby dan ketertarikan mereka. Selain itu dengan meningkatnya ancaman terhadap langkanya sumber daya alam kita, disarankan agar para pendaki untuk bisa mulai mengesampingkan perbedaan  mengenai berbagai etika dan teknik pendakian, menahan diri dan fokus pada dampak praktik terhadap lingkungan yang hubungannya dengan kita sebagai pengguna dan pemilik lahan yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk itulah kawan, sebagai penutup marilah kita bersama-sama dimulai dari diri sendiri kemudian mengajak orang-orang disekitar kita untuk menahan diri agar bisa berkegiatan dengan aman, menahan diri untuk tidak buang sampah dan menahan diri agar ‘tidak terlalu’ berselfie ria serta tidak menutup diri bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang manusia, hidup dan alam itu sendiri. Terakhir bagaimanpun juga seharusnya alam bisa menjadi sarana pendidikan tidak hanya sebagai sarana petualangan, sekian.

Stay safety! Salam Rimba!

Salam Pencerahan dan Kesetaraan!